Sunday, 23 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Mengapa Sulit Tidur di Hotel? Ilmuwan Ungkap Fenomena ‘First-Night Effect’

Oleh Destian August 23, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Banyak orang mengalami kesulitan tidur saat pertama kali menginap di tempat asing, termasuk hotel. Fenomena ini, yang dikenal sebagai ‘efek malam pertama’ (first-night effect/FNE), telah lama menjadi topik penelitian dalam studi tidur. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology mengungkap lebih dalam mengenai mekanisme neurologis di balik fenomena ini, menunjukkan bahwa otak memiliki ‘penjaga’ yang lebih waspada pada satu sisi otak saat berada di lingkungan baru.

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Waseda, Jepang, menggunakan teknik pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk mengamati aktivitas otak partisipan selama tidur. Hasilnya menunjukkan bahwa pada malam pertama tidur di lingkungan yang tidak dikenal, satu belahan otak tetap lebih aktif dan responsif terhadap rangsangan eksternal dibandingkan belahan otak lainnya.

Dr. Yuka Sasaki, salah satu peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah mekanisme pertahanan diri yang berevolusi. ‘Otak tampaknya tetap waspada terhadap potensi ancaman di lingkungan yang tidak dikenal, dengan menjaga sebagian sistem saraf tetap siaga,’ ujar Dr. Sasaki dalam rilis pers Universitas Waseda yang diterbitkan pada 21 Agustus 2016.

Lebih lanjut, studi tersebut mengindikasikan bahwa ‘penjaga’ ini cenderung berada di belahan otak kanan. Hal ini terbukti ketika partisipan diberi sinyal suara yang tidak terduga di sisi kiri mereka, belahan otak kanan menunjukkan respons yang lebih cepat dan kuat, termasuk pergerakan mata yang lebih signifikan ke arah suara.

Efek malam pertama ini menyebabkan kualitas tidur yang buruk pada malam pertama menginap. Partisipan cenderung lebih sering terbangun, mengalami tidur yang lebih ringan, dan merasa kurang segar keesokan harinya. Namun, fenomena ini biasanya mereda pada malam-malam berikutnya ketika otak mulai merasa lebih aman dan nyaman di lingkungan baru tersebut.

Para peneliti menyarankan bahwa individu yang sering bepergian dan rentan terhadap efek malam pertama dapat mencoba beberapa strategi untuk meminimalkan dampaknya. Membawa bantal atau selimut dari rumah, menjaga rutinitas tidur yang konsisten, dan menciptakan lingkungan tidur yang senyaman mungkin di kamar hotel, seperti menggelapkan ruangan dan mengurangi kebisingan, dapat membantu.

Meskipun penelitian ini memberikan wawasan ilmiah mengenai penyebab sulit tidur di hotel, efek malam pertama dapat bervariasi antarindividu. Faktor-faktor seperti tingkat kecemasan, kebiasaan tidur, dan familiaritas dengan lingkungan perjalanan juga berperan.

Studi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan intervensi yang lebih efektif untuk membantu orang mengatasi masalah tidur saat bepergian, terutama bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi atau bagi wisatawan yang ingin memaksimalkan pengalaman perjalanan mereka tanpa terganggu oleh kelelahan akibat kurang tidur.

Bagikan: Facebook X WhatsApp