Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah menimbulkan kerugian signifikan, baik secara material maupun ekologis. Akibat insiden tersebut, ribuan wisatawan terpaksa membatalkan rencana kunjungan mereka, yang berujung pada pengembalian dana tiket masuk.
Peristiwa karhutla yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, tepatnya di area Bukit Teletubbies, pada awal September 2023, memaksa pihak TNBTS untuk menutup sementara akses bagi pengunjung. Penutupan ini dilakukan demi memprioritaskan upaya pemadaman api dan mencegah penyebaran lebih lanjut, yang berpotensi membahayakan keselamatan wisatawan dan kelestarian alam.
Menurut data yang dirilis oleh Balai Besar TNBTS, penutupan akses ini berdampak langsung pada lonjakan pembatalan tiket. Ribuan wisatawan yang telah memesan tiket masuk, baik secara daring maupun luring, mengajukan permohonan pengembalian dana (refund). Jumlah pasti wisatawan yang melakukan refund masih terus dihitung, namun diperkirakan mencapai ribuan orang.
Selain kerugian dari sektor pariwisata akibat pembatalan tiket, pihak TNBTS juga sedang melakukan perhitungan kerugian material yang ditimbulkan oleh kebakaran. Kerugian ini meliputi kerusakan vegetasi, hilangnya habitat satwa, serta biaya operasional yang dikeluarkan untuk tim pemadam kebakaran dan personel yang terlibat dalam penanganan bencana tersebut.
Kepala Balai Besar TNBTS, Hendro Widjoyo, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur TNI/Polri, untuk memadamkan api dan melakukan evaluasi dampak pasca-kebakaran. Ia juga menegaskan komitmen TNBTS untuk memulihkan kawasan yang terdampak secepat mungkin.
Dampak ekologis dari karhutla ini menjadi perhatian serius. Kawasan Bukit Teletubbies yang merupakan salah satu ikon wisata Bromo dengan vegetasi khasnya, mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan ini tidak hanya mengancam keindahan lanskap, tetapi juga ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk keberadaan berbagai jenis flora dan fauna.
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya kebakaran. Dugaan awal mengarah pada kelalaian manusia, namun investigasi mendalam masih terus dilakukan untuk mengidentifikasi sumber api dan pihak yang bertanggung jawab.
TNBTS mengimbau kepada seluruh pengunjung untuk selalu mematuhi peraturan yang berlaku di kawasan taman nasional, terutama terkait larangan membuat api atau membuang puntung rokok sembarangan. Kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Saat ini, pihak TNBTS tengah mempersiapkan langkah-langkah pemulihan kawasan. Perencanaan rehabilitasi vegetasi dan pemantauan ekosistem akan menjadi agenda utama setelah api benar-benar padam dan kondisi dinyatakan aman untuk kembali dibuka bagi wisatawan.
