Arturo Bejar, mantan petinggi di Meta Platforms, melontarkan kritik tajam terhadap Mark Zuckerberg terkait isu keselamatan anak di platform media sosial raksasa tersebut, Facebook dan Instagram. Pernyataan ini disampaikan Bejar dalam kesaksiannya di hadapan pengadilan, menyoroti celah keamanan yang berpotensi membahayakan pengguna di bawah umur.
Dalam kesaksiannya, Bejar, yang pernah menjabat sebagai Chief Trust and Safety Officer di Meta, mengungkapkan bahwa ia telah berulang kali menyuarakan kekhawatirannya kepada Mark Zuckerberg mengenai kurangnya perlindungan memadai bagi anak-anak di Facebook dan Instagram. Ia bahkan mengklaim telah mengajukan pengunduran diri pada 17 November 2022, karena merasa tidak ada tindakan yang cukup diambil untuk mengatasi masalah ini.
Bejar menjelaskan bahwa ia telah mencoba untuk meningkatkan kesadaran internal mengenai risiko yang dihadapi anak-anak di platform tersebut. “Saya memberi tahu Anda bahwa saya memberi tahu Anda, dan memberi tahu Anda lagi,” ujar Bejar saat bersaksi, menggambarkan upayanya yang berulang kali untuk menarik perhatian Zuckerberg. Ia juga menambahkan, “Saya memberi tahu Anda bahwa saya akan pergi jika Anda tidak menanganinya. Dan saya pergi.”
Kritikan Bejar ini muncul di tengah gugatan hukum yang dihadapi Meta, yang menuduh perusahaan tersebut merancang produknya sedemikian rupa sehingga membuat anak-anak menjadi kecanduan dan rentan terhadap bahaya. Pengacara yang mewakili anak-anak dan keluarga yang mengajukan gugatan tersebut menggunakan kesaksian Bejar untuk memperkuat argumen mereka.
Lebih lanjut, Bejar mengungkapkan bahwa ia telah mengunduh data dari akun anak-anak yang diduga menjadi korban pelecehan dan perundungan, sebagai bukti atas kelalaian perusahaan. Ia mengklaim bahwa Zuckerberg telah mengetahui kekhawatiran ini sejak lama, namun respons yang diberikan dinilai tidak memadai.
Kesaksian Arturo Bejar ini menambah daftar panjang kritik terhadap praktik keamanan anak di platform media sosial, terutama yang dioperasikan oleh perusahaan teknologi besar. Isu ini terus menjadi sorotan publik dan regulator di seluruh dunia, mendesak adanya tindakan nyata untuk melindungi generasi muda dari potensi dampak negatif dunia maya.
