Perubahan kualitas udara akibat kabut asap, yang seringkali disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), telah menjadi perhatian serius di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada masyarakat. Penting bagi semua kalangan untuk mengenali gejala-gejala ISPA yang terkait dengan paparan kabut asap agar dapat mengambil tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat.
ISPA merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Ketika kabut asap menyelimuti, partikel-partikel halus dari pembakaran seperti PM2.5 dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Gejala umum yang perlu diwaspadai meliputi batuk yang terus-menerus, baik kering maupun berdahak. Batuk ini bisa menjadi semakin parah seiring dengan meningkatnya paparan asap. Selain itu, rasa gatal di tenggorokan, nyeri saat menelan, dan suara serak juga sering dilaporkan oleh penderita.
Masalah pernapasan lain yang kerap muncul adalah sesak napas atau kesulitan bernapas. Partikel halus dalam asap dapat menyebabkan penyempitan pada saluran udara, sehingga membuat penderita merasa seperti sulit mendapatkan udara yang cukup. Gejala ini bisa dialami oleh siapa saja, namun sangat berisiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis.
Selain gangguan pada tenggorokan dan paru-paru, kabut asap juga dapat menyebabkan gejala pada hidung. Hidung tersumbat, pilek, dan bersin-bersin adalah respons alami tubuh terhadap iritasi yang ditimbulkan oleh polutan udara. Mata merah, berair, dan terasa perih juga sering menyertai gejala ISPA akibat kabut asap, karena mata juga merupakan organ yang sensitif terhadap partikel polutan.
Demam ringan hingga sedang juga bisa menjadi indikasi adanya infeksi pada saluran pernapasan. Tubuh merespons infeksi dengan meningkatkan suhu untuk melawan patogen. Rasa lemas dan nyeri otot juga seringkali dirasakan oleh penderita ISPA, menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh sedang bekerja keras.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara konsisten mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Penggunaan masker, terutama masker N95, sangat direkomendasikan saat terpaksa berada di luar rumah. Menjaga kebersihan diri, minum air yang cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi juga penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemerintah daerah yang terdampak kabut asap terus berupaya memantau kualitas udara melalui stasiun pemantau kualitas udara. Data ini menjadi dasar untuk mengeluarkan peringatan dini dan rekomendasi kepada masyarakat, termasuk imbauan untuk mengurangi paparan dan mencari pertolongan medis jika gejala ISPA memburuk. Perkembangan situasi dan data kualitas udara akan terus dipantau oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait untuk mengambil langkah mitigasi lebih lanjut.
