Sebuah klaim tentang kompres es di ketiak yang disebut-sebut mampu meredakan overthinking atau kecemasan berlebih tengah beredar. Namun, benarkah metode sederhana ini efektif sebagai solusi permanen? Para ahli jiwa menegaskan bahwa meskipun memberikan sensasi relaksasi sesaat, kompres es bukanlah jawaban utama untuk mengatasi gangguan kecemasan.
Menurut penjelasan Dr. Andri, Sp.KJ., seorang psikiater, sensasi dingin dari kompres es dapat memicu respons fisiologis tubuh. “Saat kita merasakan dingin yang intens, tubuh akan bereaksi untuk menjaga suhu inti. Ini bisa mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran cemas yang berputar-putar,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Namun, Dr. Andri menekankan bahwa efek ini bersifat sementara. “Ini seperti memberikan jeda singkat, tapi tidak menyelesaikan akar masalah kecemasan yang kompleks. Overthinking seringkali berkaitan dengan pola pikir, trauma, atau faktor psikologis lain yang membutuhkan penanganan lebih mendalam,” tambahnya.
Alih-alih mengandalkan metode kompres es, para profesional kesehatan mental menyarankan pendekatan yang lebih terstruktur dan terbukti secara ilmiah. Terapi kognitif perilaku (CBT) misalnya, telah lama diakui sebagai salah satu terapi paling efektif untuk mengatasi gangguan kecemasan dan overthinking. CBT membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif serta mengembangkan strategi koping yang sehat.
Selain CBT, teknik relaksasi lain seperti meditasi mindfulness, pernapasan dalam, dan latihan fisik teratur juga sangat direkomendasikan. “Penting untuk mencari sumber daya dan dukungan yang tepat. Jika kecemasan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater,” pungkas Dr. Andri. Ia juga mengingatkan agar masyarakat lebih kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar, terutama yang mengklaim solusi instan untuk masalah kesehatan mental.
