Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles 0,64% pada perdagangan Rabu (22/5/2024), terperosok ke level 6.091,95. Penurunan ini terjadi akibat aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif, menekan laju pergerakan indeks mendekati level terendah.
Pergerakan IHSG sepanjang hari terpantau negatif. Indeks dibuka pada level 6.130,69 dan bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Namun, tekanan jual yang meningkat di paruh kedua perdagangan membuat indeks terus merosot, ditutup melemah 39,39 poin dari penutupan hari sebelumnya.
Analis pasar modal dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, James Yu, mengatakan bahwa sentimen negatif global dan regional menjadi salah satu pemicu utama pelemahan IHSG. Kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia turut membebani pasar saham.
Selain sentimen global, data ekonomi domestik yang dirilis juga disinyalir mempengaruhi pergerakan pasar. Meskipun belum ada data kunci yang dirilis pada hari itu yang secara spesifik memicu penurunan tajam, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Indonesia tetap menjadi perhatian investor.
Volume transaksi perdagangan pada hari Rabu tercatat cukup signifikan, menunjukkan adanya aktivitas jual beli yang intens. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp1,2 triliun di seluruh pasar, menjadi salah satu faktor dominan yang menekan IHSG.
Sektor-sektor unggulan mayoritas mengalami koreksi. Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 1,89%, diikuti oleh sektor teknologi (-1,11%), sektor kesehatan (-0,98%), sektor keuangan (-0,75%), dan sektor industri (-0,68%). Hanya sektor transportasi dan infrastruktur yang mampu membukukan kenaikan tipis.
Pergerakan bursa saham Asia lainnya pada hari yang sama juga cenderung bervariasi, namun sentimen negatif dari pasar regional turut memberikan dampak. Bursa saham Tiongkok dan Jepang mengalami pelemahan, sementara bursa Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan sedikit penguatan.
Menyikapi pelemahan IHSG ini, para analis menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan data ekonomi serta sentimen global. Potensi penguatan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada meredanya ketegangan geopolitik, kepastian kebijakan moneter global, dan perbaikan data ekonomi domestik.
