Perjalanan liburan seringkali menjadi momen yang dinanti, namun di balik kegembiraan, tersimpan risiko keamanan data pribadi yang perlu diwaspadai. Sejumlah pakar keamanan siber dan lembaga perlindungan konsumen menyoroti lima kebiasaan umum yang kerap dilakukan pelancong, yang tanpa disadari dapat membuat identitas mereka rentan dicuri oleh pihak tak bertanggung jawab.
Menurut laporan dari Kaspersky, sebuah perusahaan keamanan siber global, penjahat siber kerap memanfaatkan momen liburan untuk mengincar data pribadi. Mereka mengidentifikasi bahwa banyak orang cenderung lebih santai dan kurang waspada terhadap keamanan digital mereka saat berada jauh dari rumah.
Salah satu kebiasaan paling berbahaya adalah menggunakan koneksi Wi-Fi publik yang tidak aman. Jaringan Wi-Fi di hotel, kafe, atau bandara seringkali menjadi sasaran empuk bagi peretas untuk menyadap data yang dikirimkan, termasuk informasi login, detail kartu kredit, dan data pribadi lainnya. Para ahli keamanan menyarankan untuk menghindari transaksi sensitif saat terhubung ke jaringan publik, atau menggunakan Virtual Private Network (VPN) sebagai lapisan perlindungan tambahan.
Kebiasaan buruk lainnya adalah tidak mengamankan perangkat pribadi dengan kata sandi atau otentikasi biometrik yang kuat. Kehilangan ponsel atau laptop yang tidak terkunci dapat langsung memberikan akses penuh kepada pencuri identitas. Direktur Keamanan Informasi dari sebuah firma konsultan teknologi, Budi Santoso, dalam sebuah seminar daring pada Mei 2023, mengingatkan pentingnya mengaktifkan kunci layar dan enkripsi pada semua perangkat yang dibawa saat bepergian.
Selain itu, berbagi informasi pribadi secara berlebihan di media sosial juga menjadi sorotan. Mengunggah foto tiket pesawat, reservasi hotel, atau bahkan jadwal perjalanan secara detail dapat memberikan petunjuk berharga bagi penjahat siber untuk merencanakan aksi mereka. Pihak Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam imbauannya di awal tahun 2024, menekankan pentingnya bijak dalam berbagi informasi di ranah digital, terutama saat sedang tidak berada di rumah.
Praktik menyimpan informasi sensitif seperti nomor KTP, paspor, atau detail kartu kredit dalam bentuk teks biasa di ponsel atau email juga dinilai sangat berisiko. Jika perangkat diretas, seluruh data tersebut dapat dengan mudah diakses. Disarankan untuk menggunakan aplikasi pengelola kata sandi yang terenkripsi atau menghapus informasi tersebut setelah tidak lagi diperlukan.
Terakhir, mengabaikan pembaruan perangkat lunak dan antivirus pada perangkat sebelum berangkat adalah kebiasaan yang sering terlewatkan. Pembaruan ini seringkali mengandung perbaikan keamanan yang krusial untuk melindungi dari ancaman siber terbaru. Sejumlah pakar keamanan menyarankan untuk melakukan pembaruan sistem operasi dan aplikasi sebelum memulai perjalanan jauh.
Meningkatnya insiden pencurian identitas saat liburan mendorong berbagai lembaga untuk terus mengedukasi masyarakat. Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dijadwalkan akan merilis panduan terbaru mengenai keamanan transaksi digital bagi nasabah pada kuartal ketiga tahun ini, sebagai respons terhadap tren kejahatan siber yang semakin canggih.
