Monday, 3 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Orang Tua Perlu Ajari Anak Berani Bilang ‘Tidak’ pada Ajakan Negatif Teman

Oleh Destian August 3, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Di tengah interaksi sosial yang semakin kompleks, mengajarkan anak untuk berani menolak ajakan negatif dari teman menjadi keterampilan krusial. Fenomena ini kerap menjadi tantangan bagi orang tua, mengingat anak-anak masih dalam tahap perkembangan emosi dan kemampuan pengambilan keputusan. Pemahaman mendalam mengenai cara efektif melatih keberanian ini sangat dibutuhkan.

Psikolog anak, Dr. Astrid Wulan, dalam sebuah diskusi daring yang diselenggarakan oleh Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK-I) pada 15 Agustus 2023, menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri pada anak sejak dini. “Anak yang percaya diri cenderung lebih mampu mengenali dan menolak ajakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga atau berpotensi membahayakan dirinya,” ujar Dr. Wulan. Beliau menambahkan bahwa penolakan bukan berarti anti-sosial, melainkan kemampuan untuk menjaga diri dan membuat pilihan yang bijak.

Salah satu strategi utama yang disarankan adalah komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Orang tua perlu menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman untuk berbagi cerita tentang teman-temannya dan segala ajakan yang mereka terima. Misalnya, jika anak menceritakan temannya mengajak untuk membolos sekolah, orang tua dapat mendiskusikan konsekuensi dari tindakan tersebut dan bagaimana menolaknya dengan sopan namun tegas. Juru Bicara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Bapak Budi Santoso, pernah menyatakan dalam sebuah kesempatan bahwa dialog dua arah adalah kunci untuk membentuk karakter anak yang kuat.

Pendekatan lain adalah dengan memberikan contoh nyata. Anak-anak belajar banyak melalui observasi. Ketika orang tua menunjukkan cara menolak ajakan yang tidak sesuai, baik itu dari lingkungan kerja maupun sosial, anak akan menyerapnya. Contoh sederhana seperti menolak tawaran merokok atau ajakan berkumpul hingga larut malam saat ada tanggung jawab lain, dapat menjadi pelajaran berharga bagi mereka.

Melatih anak untuk memahami dan mengkomunikasikan perasaan mereka juga sangat esensial. Mengajarkan anak untuk berkata, “Aku tidak nyaman melakukan itu” atau “Aku tidak mau ikut karena itu tidak baik,” dapat membekali mereka dengan kosakata penolakan yang sehat. Menurut artikel yang dipublikasikan oleh UNICEF Indonesia pada awal tahun 2024, pengembangan kecerdasan emosional anak berkorelasi positif dengan kemampuan mereka dalam menghadapi tekanan sosial.

Selain itu, orang tua disarankan untuk tidak bersikap terlalu mengontrol, namun tetap memberikan batasan yang jelas. Membiarkan anak membuat keputusan kecil yang aman, dan kemudian mendiskusikan hasilnya, akan membangun kemandirian mereka. Jika anak melakukan kesalahan, fokuslah pada pembelajaran, bukan hanya hukuman. Pemberian apresiasi ketika anak berhasil menolak ajakan negatif juga akan memperkuat perilaku positif tersebut.

Penting juga bagi orang tua untuk mengetahui lingkungan pertemanan anak. Membangun hubungan baik dengan orang tua teman sebaya anak dapat memberikan gambaran lebih luas mengenai dinamika sosial yang dihadapi anak. Informasi ini dapat membantu orang tua dalam memberikan panduan yang lebih relevan dan spesifik.

Upaya ini sejalan dengan program KemenPPPA yang terus mendorong penguatan peran keluarga dalam melindungi anak dari pengaruh negatif. Diharapkan, dengan strategi yang tepat, anak-anak Indonesia tumbuh menjadi individu yang berani, mandiri, dan mampu membuat pilihan terbaik bagi diri mereka di masa depan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp