Terapi sel, sebuah inovasi medis yang terus berkembang dalam penanganan kanker, belum dapat sepenuhnya menggantikan peran kemoterapi sebagai lini pengobatan utama. Para ahli menekankan bahwa kedua metode ini memiliki mekanisme kerja, indikasi, serta keterbatasan yang berbeda, sehingga seringkali digunakan secara komplementer atau pada kondisi spesifik.
Menurut Prof. Dr. dr. Sutrisno, Sp.PD-KHOM, FINASIM, seorang spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik, terapi sel seperti sel punca atau terapi CAR-T (Chimeric Antigen Receptor T-cell) memang menunjukkan potensi besar. Namun, efektivitasnya masih sangat bergantung pada jenis kanker, stadium penyakit, dan respons individu pasien. Terapi sel punca, misalnya, lebih banyak digunakan untuk memulihkan sumsum tulang setelah kemoterapi dosis tinggi pada kasus leukemia atau limfoma.
Sementara itu, kemoterapi tetap menjadi tulang punggung pengobatan bagi banyak jenis kanker solid maupun hematologi. Mekanisme kerjanya yang menyerang sel-sel yang membelah dengan cepat, baik sel kanker maupun sel normal, membuatnya efektif dalam memperlambat atau menghentikan pertumbuhan tumor. Meskipun memiliki efek samping yang dikenal luas, kemoterapi telah terbukti secara historis mampu meningkatkan angka kesembuhan dan harapan hidup pasien kanker.
Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) pada awal tahun 2024, para pakar sepakat bahwa terapi sel dan kemoterapi bukanlah pilihan yang saling meniadakan. Dr. Aris Wibudi, Sp.B(K)Onk, seorang ahli bedah onkologi, menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, kemoterapi bahkan diperlukan untuk mengecilkan tumor sebelum pembedahan atau terapi radiasi, atau untuk memberantas sel kanker yang tersisa setelah operasi.
Terapi sel CAR-T, yang merupakan salah satu terobosan terkini dalam imunoterapi sel, berfokus pada modifikasi sel T pasien untuk mengenali dan menyerang sel kanker secara spesifik. Meskipun telah menunjukkan hasil yang luar biasa pada beberapa jenis leukemia dan limfoma tertentu, terapi ini masih menghadapi tantangan terkait biaya yang sangat tinggi, ketersediaan terbatas, serta potensi efek samping yang serius seperti cytokine release syndrome (CRS).
Lebih lanjut, para peneliti di berbagai institusi, termasuk dari Pusat Kanker Nasional (National Cancer Center) Amerika Serikat, terus melakukan penelitian untuk memperluas indikasi terapi sel dan mengatasi keterbatasannya. Fokus saat ini adalah bagaimana mengintegrasikan terapi sel dengan modalitas pengobatan lain, termasuk kemoterapi, radioterapi, dan terapi target, untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal.
Keputusan mengenai jenis terapi yang paling sesuai untuk seorang pasien kanker selalu dibuat secara individual, melibatkan tim medis multidisiplin. Pertimbangan mencakup diagnosis pasti, stadium kanker, kondisi kesehatan umum pasien, serta ketersediaan teknologi dan sumber daya medis di fasilitas kesehatan.
Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr. Azhar Lubis, dalam sebuah kesempatan pada akhir 2023, menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan dan akses terhadap berbagai jenis terapi kanker, termasuk inovasi terbaru. Namun, penekanan tetap pada bukti ilmiah yang kuat dan ketersediaan yang terjangkau bagi masyarakat luas.
Dengan perkembangan teknologi yang pesat, diharapkan di masa depan akan ada lebih banyak pilihan terapi yang efektif dan personal bagi pasien kanker. Namun, untuk saat ini, kemoterapi tetap memegang peranan krusial dan seringkali menjadi fondasi pengobatan kanker.
