Stres kronis kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi muda, berpotensi memicu dan memperparah kondisi penyakit autoimun. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya tekanan hidup yang dihadapi oleh kaum muda.
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan asing, justru berbalik menyerang sel-sel sehatnya sendiri. Gejalanya bervariasi, mulai dari kelelahan ekstrem, nyeri sendi, hingga gangguan pada organ vital.
Menurut dr. Rina Amelia, Sp.PD, seorang spesialis penyakit dalam, stres kronis memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan sistem imun. “Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol secara terus-menerus,” jelas dr. Rina. Peningkatan kadar kortisol dalam jangka waktu lama ini dapat mengganggu fungsi sel-sel kekebalan tubuh, termasuk sel T dan sel B, yang berperan penting dalam menjaga pertahanan tubuh.
Lebih lanjut, dr. Rina menjelaskan bahwa stres kronis dapat memicu peradangan (inflamasi) sistemik dalam tubuh. Peradangan ini menjadi ‘bahan bakar’ bagi perkembangan penyakit autoimun. “Proses peradangan yang terus-menerus ini dapat merusak jaringan sehat dan memicu respons autoimun yang tidak terkendali,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan gaya hidup modern yang seringkali menuntut performa tinggi di usia muda, baik dalam hal akademis, pekerjaan, maupun sosial. Kurangnya waktu istirahat, pola makan yang tidak sehat, dan minimnya aktivitas fisik juga turut berkontribusi pada peningkatan tingkat stres.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya kesadaran akan dampak stres pada kesehatan autoimun, terutama bagi individu yang memiliki riwayat keluarga penyakit autoimun. Deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap stres, melalui berbagai teknik relaksasi, olahraga teratur, serta dukungan psikologis, dapat menjadi langkah preventif yang krusial untuk mencegah atau mengelola penyakit autoimun pada usia muda.
