Calon Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman, membocorkan sejumlah strategi yang telah dan akan diterapkan oleh bank sentral dalam mengatasi potensi kekeringan likuiditas di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan dana di sistem perbankan, khususnya pada bank-bank besar pelat merah.
Dalam paparannya di hadapan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI baru-baru ini, Aida menjelaskan bahwa BI memiliki berbagai instrumen untuk memastikan likuiditas di sistem perbankan tetap terjaga. Pendekatan BI bersifat proaktif dan antisipatif, bukan hanya reaktif ketika masalah sudah muncul.
Salah satu mekanisme utama yang diungkapkan adalah melalui operasi pasar terbuka (OPT). BI dapat menyuntikkan likuiditas ke pasar melalui pembelian surat berharga atau instrumen lain yang dimiliki oleh bank. Sebaliknya, jika likuiditas berlebih, BI dapat menyerapnya kembali melalui penjualan surat berharga.
Selain OPT, Aida juga menyoroti peran penting fasilitas pendanaan BI, seperti Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan Fasilitas Diskonto. Instrumen ini dirancang untuk memberikan pinjaman jangka pendek kepada bank yang mengalami kesulitan likuiditas sementara, sehingga mencegah terjadinya krisis.
Lebih lanjut, Aida mengindikasikan bahwa BI senantiasa memantau kondisi likuiditas secara ketat melalui berbagai indikator, termasuk suku bunga pasar uang antarbank dan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK). Pemantauan ini memungkinkan BI untuk mendeteksi dini potensi masalah likuiditas sebelum membesar.
Perhatian terhadap Himbara secara khusus juga menjadi sorotan. Bank-bank BUMN ini memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, termasuk dalam penyaluran kredit program dan pembiayaan sektor prioritas. Oleh karena itu, menjaga stabilitas likuiditas Himbara menjadi prioritas BI.
Dalam konteks yang lebih luas, Aida menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan. Ketersediaan likuiditas yang memadai merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas tersebut, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pernyataan Aida ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kesiapan dan kemampuan Bank Indonesia dalam menghadapi tantangan likuiditas. Strategi yang komprehensif dan adaptif diharapkan dapat memastikan kelancaran fungsi intermediasi perbankan dan menjaga kesehatan sistem keuangan nasional.
