Ratusan simpanse yang sebelumnya menjadi subjek eksperimen vaksin di Amerika Serikat kini menemukan kehidupan baru di sebuah suaka di Liberia. Sekitar 400 simpanse ini, yang ditinggalkan setelah penelitian di laboratorium New York Blood Center (NYBC) berakhir, telah dipindahkan ke Liberia dan kini dirawat oleh organisasi Liberia Chimpanzee Conservation (LCC) dan Wildlife Trust International.
Kisah para simpanse ini bermula dari penelitian yang dilakukan oleh NYBC di New York sejak tahun 1970-an. Lembaga ini menggunakan simpanse untuk menguji keamanan dan efektivitas vaksin hepatitis B, yang kemudian berhasil dikembangkan dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Namun, setelah studi tersebut selesai dan NYBC menghentikan operasinya di laboratorium tersebut, nasib para simpanse menjadi tidak pasti.
Selama bertahun-tahun, simpanse-simpanse ini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan di pulau-pulau buatan di luar laboratorium. Mereka bergantung pada staf laboratorium untuk makanan dan perawatan. Ketika NYBC mengumumkan penghentian dukungan finansial pada tahun 2019, para aktivis hewan dan organisasi penyelamat satwa liar segera bergerak untuk mencari solusi agar para simpanse ini tidak terlantar.
Upaya penyelamatan ini akhirnya membuahkan hasil dengan adanya kesepakatan untuk memindahkan mereka ke Liberia. Proses pemindahan ini merupakan operasi yang kompleks dan memakan waktu. Para simpanse ini dibawa ke sebuah suaka yang dikelola oleh LCC, yang didukung oleh Wildlife Trust International. Suaka ini dirancang untuk memberikan lingkungan yang lebih alami dan aman bagi mereka.
Menurut laporan dari berbagai media, termasuk Associated Press, proses pemindahan dan perawatan simpanse ini melibatkan biaya yang signifikan. Awalnya, NYBC berjanji untuk terus mendanai perawatan mereka, namun kemudian menghentikan dukungan tersebut, menimbulkan kritik keras dari para pembela hak hewan. Kini, pendanaan untuk suaka ini sebagian besar bergantung pada donasi dari publik dan dukungan organisasi nirlaba.
Para simpanse yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka di laboratorium kini beradaptasi dengan kehidupan di alam yang lebih bebas di suaka tersebut. Mereka memiliki akses ke area yang lebih luas, makanan yang sesuai, dan perawatan veteriner. Meskipun mereka tidak sepenuhnya dilepasliarkan ke alam liar karena kondisi mereka, suaka ini menawarkan kualitas hidup yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Perjalanan para simpanse ini menyoroti kompleksitas etika dalam penelitian hewan dan tanggung jawab yang harus diemban oleh lembaga penelitian setelah eksperimen selesai. Pemindahan mereka ke Liberia menjadi bukti nyata upaya kolektif untuk memberikan ‘kehidupan kedua’ bagi hewan-hewan yang telah berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan medis.
Kini, fokus beralih pada keberlanjutan perawatan dan pemeliharaan suaka ini. Para pengelola terus berupaya menggalang dana dan dukungan untuk memastikan bahwa ratusan simpanse ini dapat terus hidup dengan layak dan aman di rumah baru mereka di Liberia.
