Friday, 11 September 2026
BREAKING
Berita

Rupiah Tertekan, Dibuka Melemah 0,23% Terhadap Dolar AS di Awal Perdagangan

Oleh Ishak September 11, 2026 55 minutes lalu 0 komentar

Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan di awal sesi perdagangan hari ini, Senin (11/9/2023). Mata uang Garuda dibuka merosot 0,23% terhadap Dolar Amerika Serikat, dengan kurs jual mencapai Rp17.570 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi sebelumnya dan menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.

Berdasarkan data pergerakan pasar pada Senin pagi, Rupiah tercatat melemah sekitar 40 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya. Angka Rp17.570 per dolar AS ini merupakan posisi terendah Rupiah dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan adanya tekanan beli yang kuat pada mata uang Paman Sam.

Pelemahan Rupiah ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari eksternal maupun internal. Secara global, sentimen pasar keuangan masih diwarnai oleh kekhawatiran mengenai prospek ekonomi global, termasuk potensi perlambatan ekonomi di Tiongkok dan kenaikan suku bunga oleh bank sentral utama dunia.

Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat secara berkelanjutan juga menjadi salah satu pendorong utama penguatan Dolar AS. Kebijakan moneter yang lebih ketat di AS membuat aset dolar menjadi lebih menarik bagi investor, sehingga mengerek permintaan terhadap mata uang tersebut.

Dari dalam negeri, meskipun Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar, sentimen pasar yang negatif dapat memberikan tekanan tambahan. Fluktuasi harga komoditas global yang menjadi andalan ekspor Indonesia juga dapat mempengaruhi neraca perdagangan dan pada akhirnya berdampak pada nilai tukar Rupiah.

Analis pasar keuangan memperkirakan pelemahan Rupiah dapat berlanjut jika sentimen pasar global tetap negatif dan tidak ada katalis positif yang signifikan. Tingginya selisih suku bunga antara Indonesia dan AS juga menjadi pertimbangan investor dalam menempatkan dananya.

Dampak pelemahan Rupiah ini dirasakan oleh berbagai sektor. Bagi importir, biaya operasional akan meningkat karena harus mengeluarkan Rupiah lebih banyak untuk membeli barang dari luar negeri. Sebaliknya, eksportir berpotensi diuntungkan karena pendapatan dalam Rupiahnya akan bertambah.

Pergerakan Rupiah sepanjang hari ini akan terus dipantau ketat oleh pelaku pasar. Faktor-faktor seperti rilis data ekonomi penting dari AS dan Indonesia, serta perkembangan geopolitik global, akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang Garuda ke depan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp