Wednesday, 2 September 2026
BREAKING
Berita

Rupiah Terperosok ke Rp17.750 per Dolar AS, Pelemahan 0,31% Menjadi Sorotan

Oleh Ishak September 2, 2026 36 minutes lalu 0 komentar

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (2/9/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.750 per Dolar AS, mencatat penurunan sebesar 0,31%. Pelemahan ini menjadi perhatian pelaku pasar keuangan domestik di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergejolak.

Menurut data dari Refinitiv, Rupiah dibuka pada posisi Rp17.695 per Dolar AS pada pagi tadi. Seiring berjalannya waktu, laju Rupiah terus tertekan dan akhirnya ditutup melemah 0,31% atau setara dengan 55 poin di angka Rp17.750. Angka ini merupakan salah satu level terendah yang dicapai Rupiah dalam beberapa waktu terakhir, menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya pada stabilitas ekonomi.

Pelemahan Rupiah ini tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global. Di antaranya adalah antisipasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin menguat, serta ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi. Dolar AS secara umum memang cenderung menguat terhadap mata uang negara berkembang lainnya akibat sentimen risk-off.

Analis pasar keuangan, Budi Santoso, dalam keterangannya kepada media, menyatakan bahwa penguatan Dolar AS didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis menunjukkan ketahanan. Hal ini memperbesar kemungkinan The Federal Reserve untuk melanjutkan kebijakan pengetatan moneter guna mengendalikan inflasi di negara Paman Sam tersebut.

Selain itu, pergerakan nilai tukar Rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen pasar domestik. Data neraca perdagangan Indonesia yang mungkin menunjukkan perlambatan ekspor atau peningkatan impor dapat memberikan tekanan tambahan pada Rupiah. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada rilis data ekonomi domestik terbaru yang secara spesifik dikaitkan dengan pelemahan hari ini.

Dampak pelemahan Rupiah ini berpotensi terasa di berbagai sektor. Kenaikan harga barang-barang impor, termasuk bahan baku industri dan barang konsumsi, bisa menjadi konsekuensi langsung. Hal ini dapat mendorong inflasi lebih lanjut, yang pada gilirannya dapat membebani daya beli masyarakat.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus memantau perkembangan nilai tukar Rupiah secara ketat. BI memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penyesuaian kebijakan moneter. Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.

Para pelaku pasar kini menantikan data-data ekonomi selanjutnya, baik dari AS maupun Indonesia, serta pernyataan resmi dari bank sentral masing-masing negara. Respons kebijakan yang tepat dari otoritas akan sangat menentukan arah pergerakan Rupiah dalam jangka pendek hingga menengah.

Bagikan: Facebook X WhatsApp