Pembalap muda Indonesia, Muhammad Kiandra Ramadhipa, yang membela tim Honda Asia Dream Racing, baru-baru ini membagikan pandangannya mengenai perbedaan signifikan dalam gaya balap antara sirkuit Eropa dan Asia. Pengalaman yang ia dapatkan selama berkompetisi di kedua benua ini memberinya perspektif unik tentang nuansa yang membedakan kedua arena balap tersebut.
Menurut Ramadhipa, salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada pendekatan fisik dan mental yang diterapkan oleh para pembalap. Ia menjelaskan, “Di Eropa, pembalapnya sangat mengandalkan fisik. Mereka sangat kuat dan disiplin dalam latihan fisik.” Hal ini berbeda dengan mayoritas pembalap di Asia yang cenderung lebih mengandalkan teknik dan kelincahan di atas lintasan.
Lebih lanjut, Ramadhipa menguraikan bahwa perbedaan ini juga tercermin dalam strategi balap di setiap balapan. “Cara mereka (pembalap Eropa) menjaga ban itu beda, jadi mereka lebih bisa push di akhir balapan,” ungkapnya. Kemampuan untuk mengatur dan menjaga performa ban hingga lap-lap terakhir menjadi kunci keunggulan pembalap Eropa, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan kecepatan tinggi dan melakukan serangan di momen krusial.
Ramadhipa, yang memiliki kesempatan bertarung di sirkuit-sirkuit bergengsi di Eropa, menyadari pentingnya adaptasi. Ia menambahkan, “Itu yang bikin beda. Kita di Asia belum terbiasa seperti itu.” Pengalaman ini mendorongnya untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan tuntutan balap di level internasional. Fokus pada peningkatan kekuatan fisik dan pemahaman mendalam tentang manajemen ban menjadi prioritasnya untuk dapat bersaing lebih kompetitif.
Perbedaan gaya balap ini tidak hanya menjadi catatan bagi Ramadhipa, tetapi juga menjadi refleksi bagi perkembangan dunia balap motor di Asia. Dengan semakin banyaknya pembalap Asia yang berani menjajal kompetisi di Eropa, diharapkan akan terjadi transfer ilmu dan adaptasi yang positif, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas balap di kedua wilayah.
