Amerika Serikat dan China kembali terlibat dalam eskalasi ketegangan dagang dengan saling melancarkan sanksi baru. Langkah ini terjadi menjelang pertemuan krusial antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di KTT G20 Osaka, Jepang, yang diharapkan dapat meredakan perang dagang yang kian memanas.
Langkah saling balas sanksi ini menandai babak baru dalam perseteruan ekonomi antara dua negara adidaya tersebut. AS sebelumnya telah mengenakan tarif tambahan terhadap produk-produk China senilai 300 miliar dolar AS, yang sebagian besar belum dikenakan tarif. Sebagai respons, China mengumumkan akan memberlakukan tarif balasan terhadap barang-barang dari AS.
Pemerintahan Trump secara resmi mengumumkan rencana pengenaan tarif 10% untuk sisa impor senilai 300 miliar dolar AS dari China, yang akan berlaku mulai 1 September. Daftar produk yang ditargetkan mencakup berbagai barang konsumsi, mulai dari pakaian hingga elektronik. Keputusan ini diambil setelah negosiasi perdagangan antara kedua negara mengalami kemacetan dan dianggap tidak membuahkan hasil yang signifikan.
Tidak tinggal diam, China merespons dengan cepat. Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa negara itu akan memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk AS. Detail mengenai besaran tarif dan daftar barang yang akan dikenakan sanksi balasan ini belum diumumkan secara rinci, namun langkah ini menegaskan ketegasan China dalam mempertahankan kepentingannya.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Osaka menjadi sorotan utama. Para analis menilai pertemuan ini sebagai kesempatan terakhir bagi kedua pemimpin untuk mencari solusi damai dan menghentikan eskalasi perang dagang yang dapat berdampak negatif bagi perekonomian global. Ketegangan yang terus meningkat ini telah menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.
Perang dagang antara AS dan China telah berlangsung sejak 2018, di mana kedua negara saling mengenakan tarif tinggi untuk produk satu sama lain. Dimulai dengan tarif atas impor baja dan aluminium, perselisihan ini kemudian meluas ke berbagai sektor, termasuk teknologi tinggi, pertanian, dan manufaktur. Dampak dari perang dagang ini telah dirasakan oleh berbagai industri di kedua negara, serta rantai pasokan global.
Sejumlah pengamat ekonomi memperkirakan bahwa eskalasi sanksi ini akan semakin memperumit upaya negosiasi. Kenaikan tarif yang terus-menerus dapat mendorong perusahaan untuk merelokasi produksi ke negara lain, mengubah lanskap perdagangan internasional secara signifikan. Selain itu, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang dagang ini juga dapat menghambat investasi dan konsumsi.
Pertemuan di Osaka akan menjadi ujian bagi kemampuan diplomasi kedua pemimpin dalam mengatasi perbedaan dan mencari titik temu. Keberhasilan atau kegagalan pertemuan ini akan sangat menentukan arah hubungan ekonomi AS-China ke depan, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.
