Duduk berjam-jam sambil asyik scrolling media sosial ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan otak. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyoroti dampak negatif kebiasaan tersebut terhadap fungsi kognitif.
Menurut Dr. Nurul Indarti, S.Psi., M.Si., seorang dosen Fakultas Psikologi UGM, kebiasaan scrolling yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan pada otak. “Scrolling media sosial yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, apalagi sambil duduk berjam-jam, berpotensi menimbulkan masalah pada otak kita,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan.
Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah menurunnya kemampuan otak dalam memproses informasi. Paparan konten yang berlimpah dan cepat berganti, seperti yang lazim ditemui di platform media sosial, memaksa otak untuk bekerja lebih keras dalam menyerap dan memahami setiap informasi. Hal ini dapat menyebabkan otak menjadi terbebani dan akhirnya mengurangi efektivitasnya dalam melakukan tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
Lebih lanjut, durasi scrolling yang panjang juga dikaitkan dengan penurunan fungsi eksekutif otak. Fungsi eksekutif mencakup kemampuan untuk merencanakan, mengatur, memecahkan masalah, dan mengendalikan impuls. Ketika seseorang terlalu sering terpapar pada stimulus yang instan dan mudah didapat melalui media sosial, kemampuan otak untuk melakukan perencanaan jangka panjang atau menunda kepuasan bisa tergerus.
Dr. Nurul Indarti menekankan pentingnya kesadaran akan durasi penggunaan media sosial. Ia menyarankan agar masyarakat mulai membatasi waktu yang dihabiskan untuk aktivitas ini demi menjaga kesehatan otak. Meskipun media sosial menawarkan berbagai manfaat, keseimbangan dalam penggunaannya sangatlah krusial untuk mencegah dampak negatif yang dapat mengganggu fungsi kognitif sehari-hari.
