Saturday, 29 August 2026
BREAKING
Kesehatan

Nyeri Saat Buang Air Kecil dan Anyang-anyangan: Waspadai Gejala Batu Ginjal, Kata Dokter

Oleh Destian August 29, 2026 55 minutes lalu 0 komentar

Nyeri saat buang air kecil dan sensasi anyang-anyangan yang terus-menerus bisa menjadi indikasi adanya batu ginjal. Kondisi ini, meskipun sering dianggap remeh, dapat menandakan gangguan serius pada sistem saluran kemih.

Dokter spesialis urologi, dr. Dian Pratiwi, Sp.U, menjelaskan bahwa batu ginjal terbentuk ketika mineral dalam urin mengkristal dan menggumpal. Ukuran batu yang bervariasi, mulai dari sekecil butiran pasir hingga sebesar bola golf, menentukan tingkat keparahan gejala yang dialami.

Gejala umum batu ginjal tidak hanya terbatas pada nyeri saat buang air kecil dan anyang-anyangan. dr. Dian merinci bahwa rasa sakit yang hebat, terutama di bagian samping atau punggung bawah, merupakan salah satu ciri khas batu ginjal. Rasa sakit ini sering kali menjalar ke area perut bagian bawah dan selangkangan, serta bisa datang dan pergi dalam gelombang.

Selain itu, perubahan pada urin juga patut diperhatikan. Pasien batu ginjal kerap mengalami perubahan warna urin menjadi kemerahan, merah muda, atau cokelat akibat adanya darah. Urin yang keruh atau berbau tidak sedap juga bisa menjadi pertanda infeksi yang menyertai batu ginjal.

dr. Dian juga menekankan pentingnya mengenali gejala lain seperti mual dan muntah yang sering menyertai rasa nyeri hebat. Keinginan untuk buang air kecil yang lebih sering, bahkan saat kandung kemih kosong, juga menjadi salah satu indikator adanya masalah pada saluran kemih.

Mengutip pernyataan dr. Dian, “Ketika batu ginjal bergerak dari ginjal ke ureter, ia dapat menyumbat aliran urin dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.” Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, seperti infeksi ginjal atau kerusakan ginjal permanen.

Bagi individu yang mengalami gejala-gejala tersebut, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Diagnosis yang akurat melalui pemeriksaan fisik, tes urin, dan pencitraan seperti USG atau CT scan, akan membantu menentukan penanganan yang paling sesuai, baik itu penanganan konservatif maupun tindakan medis lainnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp