Jakarta – Data terbaru menunjukkan angka kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia sangat memprihatinkan, dengan 59 persen di antaranya terjadi pada kelompok usia anak-anak. Situasi ini menyoroti kerentanan anak-anak terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut, terutama di lingkungan sekolah yang kerap menjadi titik rawan penularan.
Angka yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini mengindikasikan perlunya kewaspadaan ekstra dari orang tua, sekolah, dan pemerintah dalam mencegah penyebaran DBD. Kematian yang tinggi pada anak-anak menunjukkan bahwa mereka lebih rentan terhadap komplikasi serius dari infeksi virus dengue.
Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, pada awal tahun 2024, kasus DBD masih menunjukkan tren peningkatan di berbagai daerah. Ia menekankan bahwa anak-anak, dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya matang, lebih rentan mengalami gejala berat hingga berujung pada kematian jika terinfeksi.
Lingkungan sekolah seringkali menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran DBD. Banyaknya siswa yang berkumpul dalam satu area, ditambah dengan potensi genangan air di sekitar sekolah, menciptakan habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti. Jeda antar jam pelajaran dan aktivitas di luar kelas juga memberikan kesempatan bagi nyamuk untuk menggigit anak-anak.
Beberapa media nasional, seperti Kompas.com dan Detik.com, melaporkan lonjakan kasus DBD di berbagai provinsi seiring datangnya musim hujan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Data dari Kementerian Kesehatan per pertengahan Februari 2024 mencatat ribuan kasus positif DBD di seluruh Indonesia, dengan beberapa daerah melaporkan jumlah kematian yang signifikan.
Menyikapi situasi ini, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah terus menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yaitu Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas, serta memanfaatkan larvasida dan menanam tumbuhan pengusir nyamuk. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk siswa di sekolah, menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.
Pihak sekolah juga diimbau untuk proaktif melakukan pemantauan dan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan sekolah secara rutin. Kegiatan bersih-bersih bersama, pemeriksaan kamar mandi, tempat penampungan air, hingga area bermain anak dapat dilakukan secara berkala untuk meminimalkan risiko penularan.
Meskipun angka kematian pada anak sangat tinggi, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa DBD dapat dicegah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewaspadaan terhadap gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, ruam, dan nyeri di belakang mata, perlu terus ditingkatkan agar penanganan dapat segera dilakukan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan sekolah untuk memastikan program pencegahan dan pemberantasan DBD berjalan efektif. Pertemuan koordinasi lanjutan untuk membahas strategi penanggulangan DBD menjelang puncak musim hujan dijadwalkan akan digelar pada akhir Maret mendatang.
