Perasaan tidak adil dalam keluarga, di mana orang tua terkesan lebih menyayangi atau memprioritaskan satu anak dibandingkan yang lain, bukanlah fenomena baru. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai pilih kasih atau memiliki ‘anak emas’, dapat menimbulkan luka emosional mendalam bagi anak yang merasa terabaikan, bahkan hingga usia dewasa. Memahami dan menyikapi dinamika ini secara sehat menjadi kunci untuk menjaga hubungan keluarga yang harmonis dan kesejahteraan diri.
Sindrom anak emas, atau favoritisme orang tua, dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemberian perhatian lebih, dukungan finansial yang tidak proporsional, hingga pengakuan dan pujian yang lebih sering ditujukan pada satu anak. Hal ini dapat menimbulkan rasa iri, rendah diri, dan kebencian pada anak yang merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sama, yang pada akhirnya dapat merusak ikatan keluarga.
Psikolog keluarga, Dr. Sarah Miller, dalam wawancara dengan Psychology Today, menjelaskan bahwa favoritisme orang tua seringkali tidak disadari sepenuhnya oleh orang tua itu sendiri. Faktor-faktor seperti kepribadian anak, kesamaan minat, atau bahkan urutan kelahiran bisa secara tidak sengaja memengaruhi cara orang tua berinteraksi. Namun, terlepas dari niat orang tua, dampak emosional pada anak yang merasa diistimewakan atau diabaikan tetap signifikan.
Bagi anak dewasa yang masih bergulat dengan perasaan ini, ada beberapa langkah strategis yang dapat diambil. Pertama, adalah mengenali dan menerima perasaan yang muncul. Mengakui bahwa Anda merasa tidak diperlakukan adil adalah langkah awal untuk memproses emosi tersebut. Ini bukan tentang menyalahkan, melainkan tentang memahami pengalaman Anda sendiri.
Kedua, mencoba melakukan komunikasi terbuka dengan orang tua. Pilih waktu yang tepat dan sampaikan perasaan Anda dengan tenang dan jelas, menggunakan ‘saya’ (misalnya, ‘Saya merasa sedih ketika…’) daripada menyalahkan (‘Kamu selalu membandingkan saya…’). Tujuannya adalah untuk berbagi perspektif Anda, bukan untuk menuntut perubahan drastis.
Ketiga, membangun kemandirian emosional. Jangan biarkan validasi diri Anda sepenuhnya bergantung pada pengakuan atau kasih sayang orang tua. Fokus pada pencapaian pribadi, hubungan yang sehat dengan pasangan atau teman, dan pengembangan minat diri. Ini akan membantu mengurangi ketergantungan emosional dan meningkatkan rasa percaya diri.
Keempat, menetapkan batasan yang sehat. Jika interaksi dengan orang tua atau saudara kandung terus-menerus menimbulkan rasa sakit, penting untuk menetapkan batasan mengenai topik pembicaraan, frekuensi kunjungan, atau jenis bantuan yang bersedia Anda berikan. Ini adalah tindakan perlindungan diri.
Kelima, mencari dukungan profesional. Jika perasaan tersebut terasa sangat membebani dan mengganggu kualitas hidup Anda, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis dapat memberikan ruang aman untuk mengeksplorasi akar masalah, mengembangkan strategi koping yang efektif, dan menemukan cara untuk menyembuhkan luka emosional.
Penting untuk dicatat bahwa upaya penyembuhan dan penyesuaian ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Pertemuan keluarga berikutnya atau momen perayaan hari raya akan menjadi ujian nyata bagi penerapan strategi-strategi ini. Para ahli menyarankan untuk terus memantau perkembangan hubungan dan siap untuk menyesuaikan pendekatan jika diperlukan, sambil tetap memprioritaskan kesehatan mental diri sendiri.
