Friday, 7 August 2026
BREAKING
Kesehatan

Kemenkes Ungkap Alasan Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM Hingga Meninggal

Oleh Destian August 7, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angkat bicara mengenai kasus viral seorang pasien BPJS Kesehatan yang dilaporkan harus menunggu selama delapan jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sebelum akhirnya meninggal dunia. Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril, menjelaskan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan tempat tidur di High Care Unit (HCU).

Menurut Syahril, insiden ini terjadi pada tanggal 17 Mei 2023. Pasien tersebut datang ke IGD RSCM dengan kondisi yang memerlukan penanganan segera. Namun, situasi di IGD saat itu juga sedang padat, dan yang menjadi tantangan terbesar adalah ketersediaan ruang di HCU, unit yang krusial untuk pasien dengan kondisi kritis namun belum memerlukan perawatan intensif penuh di ICU.

β€œMemang betul ada pasien yang menunggu cukup lama di IGD RSCM, penyebabnya adalah keterbatasan HCU. Di rumah sakit, terutama di rumah sakit rujukan seperti RSCM, seringkali terjadi lonjakan pasien yang memerlukan perawatan di HCU,” ujar Syahril dalam konferensi pers virtual pada Selasa (23/5/2023).

Syahril menambahkan bahwa RSCM telah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien. Pihak rumah sakit terus berusaha memutar otak agar ada tempat bagi pasien yang membutuhkan. Namun, dalam situasi darurat dan keterbatasan fasilitas, terkadang hal tersebut menjadi tantangan tersendiri.

β€œKami turut berduka cita atas kejadian ini. Kemenkes terus mendorong agar rumah sakit, termasuk RSCM, dapat meningkatkan kapasitas dan efisiensi pelayanan, terutama di unit-unit kritis seperti HCU dan ICU, agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti Puskesmas atau klinik yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan. Hal ini penting untuk skrining awal dan penanganan kasus yang tidak bersifat darurat, sehingga beban rumah sakit rujukan dapat berkurang dan pasien yang benar-benar membutuhkan perawatan intensif bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.

Bagikan: Facebook X WhatsApp