Kementerian Kesehatan Republik Indonesia angkat bicara menanggapi isu viral yang beredar mengenai ratusan anak di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diduga terpapar HIV. Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Mohammad Syahril, mengklarifikasi bahwa data resmi yang dimiliki Kemenkes tidak menunjukkan angka sebesar itu terjadi di satu wilayah spesifik seperti Sidoarjo. Ia menegaskan bahwa Kemenkes terus memantau dan mengumpulkan data terkait kasus HIV/AIDS di seluruh Indonesia.
Isu mengenai ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV ini pertama kali mencuat dan menyebar luas di media sosial serta beberapa platform berita daring. Narasi yang beredar menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, terutama terkait penularan dan penanganan kasus pada kelompok usia anak.
Menanggapi hal tersebut, Kemenkes melalui Mohammad Syahril, dalam pernyataannya pada Selasa (27/6/2023) kepada CNN Indonesia, menyatakan bahwa pihaknya akan membuka data resmi mengenai kasus HIV/AIDS, termasuk yang melibatkan anak-anak. Namun, ia menekankan pentingnya merujuk pada data yang terverifikasi dan bukan informasi yang beredar tanpa dasar yang kuat.
Syahril menjelaskan bahwa penularan HIV pada anak umumnya terjadi melalui transmisi dari ibu ke anak (mother-to-child transmission) saat kehamilan, persalinan, atau menyusui. Oleh karena itu, Kemenkes berfokus pada program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, termasuk tes HIV bagi ibu hamil dan pemberian terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan risiko penularan.
Meskipun tidak mengonfirmasi angka spesifik ratusan anak di Sidoarjo, Kemenkes mengakui bahwa kasus HIV/AIDS memang ada dan terus dilaporkan dari berbagai daerah di Indonesia. Data terakhir yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan menunjukkan tren kasus HIV dan AIDS secara nasional. Berdasarkan data per September 2022, tercatat sebanyak 490.531 orang terinfeksi HIV dan 152.116 orang terdiagnosis AIDS di Indonesia.
Lebih lanjut, Kemenkes terus berupaya meningkatkan cakupan layanan pencegahan, pengobatan, dan dukungan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), termasuk anak-anak. Program seperti tes HIV pada ibu hamil, konseling dan tes HIV sukarela (KTS), serta penyediaan obat ARV di fasilitas kesehatan menjadi prioritas.
Pihak Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Masyarakat diminta untuk mendapatkan informasi yang akurat dari sumber resmi seperti Kementerian Kesehatan atau dinas kesehatan setempat. Upaya sosialisasi dan edukasi mengenai HIV/AIDS, termasuk cara penularan dan pencegahannya, akan terus digencarkan.
Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk terus melakukan surveilans, mengumpulkan data secara berkala, dan melaporkan perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Langkah-langkah strategis untuk menekan angka kasus baru dan meningkatkan kualitas hidup ODHA, khususnya anak-anak, akan terus menjadi fokus utama pemerintah.
