Gunung Semeru, Jawa Timur, terpaksa ditutup untuk aktivitas pendakian menyusul maraknya kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda kawasan tersebut. Penutupan ini berujung pada evakuasi ratusan pendaki yang saat itu berada di salah satu titik favorit, Ranu Kumbolo. Sebanyak 170 pendaki dilaporkan berhasil dievakuasi dengan selamat dari kawasan terdampak.
Keputusan penutupan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diambil untuk mencegah meluasnya api serta memastikan keselamatan para pendaki dan upaya pemadaman. Kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Semeru ini dilaporkan telah menghanguskan sebagian vegetasi di area tersebut.
Menurut informasi dari Balai Besar TNBTS, proses evakuasi 170 pendaki yang berada di Ranu Kumbolo dilakukan pada hari Sabtu (23/8/2026). Tim gabungan yang terdiri dari petugas TNBTS, TNI, Polri, dan relawan diterjunkan untuk mengamankan dan membawa turun para pendaki ke titik yang aman.
Juru Bicara Balai Besar TNBTS, [Nama Juru Bicara jika ditemukan, jika tidak, abaikan], menyatakan bahwa evakuasi berjalan lancar meskipun kondisi medan cukup menantang akibat kebakaran. Prioritas utama adalah keselamatan seluruh pendaki yang berada di wilayah terdampak.
Sebelumnya, laporan mengenai titik api di kawasan Gunung Semeru mulai terpantau sejak beberapa hari terakhir. Pihak berwenang segera mengambil langkah antisipasi dengan menutup jalur pendakian untuk mempermudah proses pemadaman dan menghindari risiko lebih lanjut.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan bahwa luas lahan yang terdampak Karhutla masih dalam perhitungan. Upaya pemadaman masih terus dilakukan oleh tim gabungan dengan mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk personel dan peralatan pemadam kebakaran.
Penutupan Gunung Semeru ini diperkirakan akan berlangsung hingga kondisi dinyatakan aman sepenuhnya. Pihak TNBTS mengimbau masyarakat dan pendaki untuk mematuhi kebijakan ini demi keselamatan bersama dan kelestarian ekosistem Semeru.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana Karhutla, terutama di musim kemarau. Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan akan memberikan informasi terbaru secara berkala.
