Wednesday, 29 July 2026
BREAKING
Kesehatan

IDI Ajukan Batasan Jam Kerja Dokter Internship 40 Jam Pekan Pasca Serangkaian Kematian

Oleh Destian July 29, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Menyusul rentetan kasus kematian yang melibatkan dokter internship, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengusulkan pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per pekan bagi para dokter yang sedang menjalani masa internship. Usulan ini diajukan sebagai respons langsung terhadap kondisi kerja yang dinilai memberatkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien serta para dokter muda.

Ketua Umum Pengurus Besar IDI, dr. Moh. Adib Khumaidi, Sp.OT, menyoroti perlunya evaluasi mendalam terhadap sistem pendidikan dokter internship yang ada saat ini. Ia menyatakan, “Kami melihat ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk mereformasi sistem internship ini. Yang paling konkret adalah bagaimana kita bisa mengatur jam kerja mereka agar tidak berlebihan.”

Adib menjelaskan bahwa usulan 40 jam kerja per minggu ini didasarkan pada pertimbangan beban kerja yang realistis dan standar internasional. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa dokter internship memiliki waktu istirahat yang cukup, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan optimal dan meminimalkan risiko kesalahan medis. “Ini bukan semata-mata untuk dokter internship, tapi juga untuk keselamatan pasien yang mereka layani,” tegasnya.

Lebih lanjut, Adib mengonfirmasi bahwa IDI telah melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kesehatan terkait usulan ini. Pihaknya berharap agar usulan pembatasan jam kerja tersebut dapat segera diakomodir dalam peraturan yang berlaku. “Kami sudah sampaikan ke Kemenkes dan mudah-mudahan segera ada tindak lanjut. Kita perlu perbaikan sistem yang lebih komprehensif,” tambahnya.

Selain pembatasan jam kerja, IDI juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas supervisi dan pendampingan bagi dokter internship. Hal ini meliputi ketersediaan dokter spesialis pembimbing yang memadai di setiap fasilitas pelayanan kesehatan tempat internship berlangsung. “Supervisi yang baik itu penting. Dokter internship harus merasa didukung dan dibimbing, bukan dibiarkan bekerja sendiri dengan beban yang sangat berat,” ujar Adib.

Rentetan kasus kematian yang terjadi, termasuk yang dialami oleh dokter muda di beberapa daerah, menjadi pemicu utama desakan IDI untuk segera melakukan perbaikan. Kasus-kasus tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan profesional medis dan publik, yang kemudian mendorong IDI untuk mengambil langkah proaktif demi mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp