Hepatitis, penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai virus, sering dijuluki sebagai ‘pembunuh senyap’ karena sulit terdeteksi pada tahap awal. Gejalanya yang samar seringkali disalahartikan dengan kondisi lain, menyebabkan banyak penderita baru menyadari penyakitnya ketika kerusakan hati sudah parah. Kondisi ini menjadi perhatian serius organisasi kesehatan dunia dan menjadi tantangan utama dalam upaya pencegahan dan penanganan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hepatitis virus telah menjadi masalah kesehatan global yang signifikan. Diperkirakan ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi hepatitis B dan C kronis, namun sebagian besar tidak menyadari status infeksi mereka. Kurangnya kesadaran dan gejala yang tidak spesifik menjadi faktor utama mengapa penyakit ini seringkali tidak terdeteksi pada fase awal.
Gejala awal hepatitis, terutama hepatitis B dan C kronis, seringkali tidak kentara atau bahkan tidak ada sama sekali. Beberapa gejala umum yang mungkin muncul antara lain kelelahan ringan, mual, nyeri perut bagian atas, atau kehilangan nafsu makan. Namun, gejala-gejala ini sangat umum dan dapat dengan mudah dikaitkan dengan penyakit lain seperti flu, gangguan pencernaan, atau stres, sehingga tidak memicu kecurigaan akan adanya infeksi hepatitis.
Dr. Jane Smith, seorang spesialis penyakit hati yang dikutip oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menjelaskan bahwa perkembangan penyakit hepatitis kronis seringkali berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan dekade, tanpa menimbulkan keluhan yang berarti. ‘Hati memiliki kapasitas regenerasi yang luar biasa, sehingga ia mampu berfungsi dengan baik meskipun sebagian besar jaringannya telah rusak,’ ujar Dr. Smith. Barulah ketika kerusakan hati mencapai titik kritis, gejala yang lebih serius seperti penyakit kuning (ikterus), pembengkakan perut (asites), dan muntah darah mulai muncul.
Faktor lain yang mempersulit deteksi dini adalah minimnya program skrining yang komprehensif untuk populasi umum, terutama di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Skrining hepatitis biasanya hanya dilakukan pada kelompok berisiko tinggi, seperti orang yang berisiko terpapar melalui hubungan seksual, pengguna narkoba suntik, atau individu yang menerima transfusi darah sebelum tahun 1992. Padahal, banyak orang yang terinfeksi tanpa mengetahui bahwa mereka termasuk dalam kelompok berisiko.
Ketiadaan gejala yang jelas pada tahap awal juga membuat banyak orang enggan untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan spesifik untuk mendeteksi virus hepatitis, seperti tes darah serologi, seringkali tidak menjadi prioritas dalam pemeriksaan kesehatan rutin. Akibatnya, diagnosis seringkali tertunda hingga penyakit mencapai stadium lanjut, yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti sirosis (pengerasan hati) dan kanker hati.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui berbagai kampanye kesehatan, terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya hepatitis dan pentingnya deteksi dini. Pihak kementerian menekankan bahwa tes darah sederhana dapat mendeteksi keberadaan virus hepatitis B dan C. Upaya ini juga didukung oleh berbagai organisasi non-pemerintah yang secara aktif melakukan edukasi dan penyediaan layanan skrining gratis di berbagai daerah.
Menindaklanjuti tantangan ini, WHO menyerukan peningkatan upaya global untuk eliminasi hepatitis pada tahun 2030. Seruan ini mencakup peningkatan akses terhadap skrining, diagnostik, pengobatan, dan pencegahan. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang gejala yang mungkin tidak spesifik namun patut diwaspadai, serta dorongan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjadi kunci utama untuk memerangi ‘pembunuh senyap’ ini sebelum terlambat.
