Pemain yang melakukan gestur menutup mulut di lapangan hijau Super League akan menghadapi konsekuensi serius. Mulai musim 2026/2027, tindakan tersebut akan langsung berujung pada kartu merah dari wasit.
Keputusan tegas ini diambil menyusul meningkatnya penggunaan gestur yang dianggap tidak sportif tersebut dalam beberapa pertandingan terakhir. Federasi Sepak Bola Super League (FSSL) menegaskan bahwa aturan baru ini bertujuan untuk menjaga integritas dan citra fair play dalam kompetisi.
Aturan ini merupakan bagian dari pembaruan regulasi yang disahkan dalam rapat Komite Eksekutif FSSL pada tanggal 15 Mei 2024. Pembaruan ini mencakup berbagai aspek permainan, namun fokus utama pada gestur tutup mulut ini mendapatkan perhatian khusus.
“Kami melihat ada tren yang mengkhawatirkan dari pemain yang menggunakan gestur ini. Ini bisa diinterpretasikan sebagai bentuk provokasi atau ketidak respeitoan terhadap lawan, ofisial, maupun penonton,” ujar Ketua Komite Wasit FSSL, Bapak Ahmad Wijaya, dalam siaran persnya.
Beliau menambahkan, “Oleh karena itu, kami sepakat untuk memberlakukan sanksi tegas berupa kartu merah langsung. Ini bukan hanya soal tindakan, tapi juga tentang pesan yang ingin kita sampaikan mengenai sportivitas di lapangan.”.
Implementasi kartu merah langsung ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pemain. FSSL percaya bahwa dengan penegakan aturan yang konsisten, para pemain akan lebih berhati-hati dalam mengekspresikan diri mereka saat bertanding.
Meskipun belum ada data spesifik mengenai jumlah pemain yang melakukan gestur ini dalam musim berjalan, FSSL menyatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan observasi dan masukan dari berbagai pihak, termasuk para wasit dan pengamat pertandingan. Musim 2026/2027 dipilih sebagai waktu implementasi agar seluruh klub dan pemain memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan regulasi baru ini.
