Wednesday, 29 July 2026
BREAKING
Kesehatan

Enam Dokter Internship Meninggal dalam Lima Bulan, FKUI Desak Evaluasi Sistem PIDI

Oleh Destian July 29, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Sorotan tajam terhadap Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) mencuat menyusul kabar duka meninggalnya enam dokter internship dalam kurun waktu lima bulan terakhir. Fenomena ini mendorong seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) untuk angkat bicara, mengkritisi berbagai aspek dalam penyelenggaraan program yang krusial bagi para dokter muda ini.

Kepergian enam dokter dalam periode yang relatif singkat tersebut menimbulkan kekhawatiran mendalam mengenai beban kerja, pengawasan, dan dukungan yang diterima oleh para peserta program. Hal ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan sistem PIDI yang selama ini berjalan.

Guru Besar FKUI, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan keprihatinannya atas rentetan kejadian ini. Beliau menekankan bahwa sistem yang ada saat ini berpotensi memberikan tekanan yang berlebihan kepada dokter internship. “Ini bukan hanya sekadar angka, tapi ada nyawa yang hilang,” ungkapnya getir, menyiratkan adanya masalah struktural yang perlu segera dibenahi.

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah durasi jam kerja yang kerap kali melebihi batas wajar. Dokter internship seringkali dihadapkan pada jadwal jaga yang padat tanpa jeda istirahat yang memadai, ditambah dengan tanggung jawab klinis yang signifikan. Kondisi ini, menurut beliau, sangat rentan menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang ekstrem, yang pada akhirnya dapat berujung pada masalah kesehatan serius.

Selain itu, sistem supervisi dan pendampingan yang ada juga dinilai belum optimal. Para dokter muda ini membutuhkan bimbingan yang intensif dan responsif dari dokter pendamping yang lebih senior. Namun, dalam praktiknya, seringkali ditemukan bahwa rasio antara dokter pendamping dan dokter internship tidak seimbang, sehingga mengurangi kualitas pengawasan dan pembinaan.

β€œKita perlu melihat kembali bagaimana alokasi sumber daya, baik dari segi tenaga medis senior maupun fasilitas pendukung, agar dokter internship benar-benar mendapatkan perlindungan dan pembinaan yang layak,” tegas Guru Besar FKUI tersebut. Ia menambahkan bahwa faktor-faktor seperti akses terhadap fasilitas kesehatan yang memadai di tempat penugasan, serta dukungan psikososial, juga menjadi elemen penting yang perlu diperhatikan dalam evaluasi sistem PIDI.

Kematian enam dokter internship ini diharapkan menjadi alarm bagi semua pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan dan kolegium terkait, untuk segera melakukan tinjauan komprehensif terhadap Program Internsip Dokter Indonesia. Perubahan yang signifikan dan mendasar sangat diperlukan demi memastikan keselamatan, kesejahteraan, dan kualitas pendidikan para calon dokter bangsa di masa depan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp