Kimpul, umbi-umbian yang tengah hangat diperbincangkan di kalangan netizen karena fleksibilitasnya dalam olahan kuliner, ternyata menyimpan potensi risiko bagi kelompok masyarakat tertentu. Para ahli medis menyarankan agar sebagian orang membatasi konsumsi makanan yang terbuat dari kimpul guna menjaga kesehatan.
Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, Wihni Sundari, S.Gz, menjelaskan bahwa kimpul, atau yang dikenal juga sebagai talas, mengandung senyawa oksalat. Senyawa ini, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih, dapat memicu pembentukan batu ginjal, terutama pada individu yang memiliki riwayat atau rentan terhadap kondisi tersebut.
βSetiap orang bisa mengonsumsi kimpul. Namun, bagi orang yang memiliki riwayat batu ginjal, atau rentan terkena batu ginjal, sebaiknya membatasi konsumsi kimpul,β ujar Wihni Sundari dalam sebuah keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (16/1/2024).
Wihni menambahkan, meskipun kimpul kaya akan karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh, kandungan oksalatnya tetap menjadi perhatian. Ia menekankan pentingnya kesadaran akan kondisi kesehatan pribadi sebelum mengonsumsi makanan yang mengandung oksalat tinggi.
Lebih lanjut, Wihni menyarankan agar masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan mengenai kimpul. Asalkan dikonsumsi dalam batas wajar dan diolah dengan benar, kimpul tetap dapat menjadi sumber nutrisi yang baik. Cara pengolahan yang tepat, seperti merebus atau mengukus, dapat membantu mengurangi kadar oksalat dalam kimpul.
Namun, bagi kelompok rentan yang disebutkan, saran untuk membatasi konsumsi menjadi kunci. Hal ini sejalan dengan anjuran umum dalam pola makan sehat, di mana variasi dan moderasi menjadi prinsip utama. Kimpul, dengan segala kebaikannya, tetap harus ditempatkan pada porsi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing individu.
