Sunday, 2 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Dihinggapi Lalat, Amankah Makanan Tetap Dikonsumsi? Pakar Jelaskan Risiko Kesehatan

Oleh Destian August 2, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Kehadiran lalat di atas makanan kerap kali menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan pangan. Lalat, terutama lalat rumah tangga, dikenal sebagai vektor penyakit yang dapat membawa berbagai patogen berbahaya. Pertanyaannya, seberapa besar risiko kesehatan yang mengintai jika makanan yang telah dihinggapi lalat tetap dikonsumsi?

Menurut para ahli kesehatan dan keamanan pangan, membiarkan lalat hinggap di makanan sebaiknya dihindari. Lalat dapat mentransfer bakteri, virus, dan parasit dari tempat kotor yang mereka singgahi sebelumnya, seperti sampah atau kotoran hewan, langsung ke permukaan makanan.

Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Zulkifli Amin, pernah menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia pada 1 Agustus 2024, bahwa lalat memiliki kebiasaan memuntahkan cairan pencernaan ke makanan padat agar dapat menyerapnya. Proses ini, meskipun terjadi dalam hitungan detik, berpotensi menularkan kuman yang ada di dalam mulut dan saluran pencernaan lalat.

Beberapa jenis bakteri yang umum dibawa oleh lalat antara lain Salmonella, E. coli, Shigella, dan Staphylococcus. Patogen ini dapat menyebabkan berbagai penyakit pencernaan seperti diare, muntah, demam, dan sakit perut. Dalam kasus yang lebih serius, infeksi bakteri tersebut bisa memicu komplikasi yang membahayakan.

Selain bakteri, lalat juga dapat menyebarkan virus seperti penyebab penyakit flu dan disentri, serta parasit yang dapat menimbulkan infeksi usus. Siklus hidup lalat yang cepat dan kemampuannya berkembang biak di lingkungan yang tidak higienis menjadikan mereka ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di area dengan sanitasi buruk.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat juga kerap mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan makanan dari serangga. Pencegahan adalah kunci utama. Menjaga kebersihan area dapur, menutup makanan rapat-rapat, dan menggunakan kelambu atau penutup makanan saat menyajikan hidangan di luar ruangan dapat meminimalkan risiko kontaminasi.

Meskipun ada potensi bahaya, tingkat risiko juga bergantung pada jenis makanan, lamanya lalat hinggap, dan kebersihan lingkungan sekitar. Makanan yang dimasak dan masih panas mungkin memiliki risiko lebih rendah dibandingkan makanan mentah atau yang sudah dingin. Namun, untuk tindakan pencegahan terbaik, disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang sudah terlihat dihinggapi lalat.

Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia secara rutin melakukan pengawasan terhadap keamanan pangan, termasuk edukasi masyarakat mengenai praktik higiene yang baik. Upaya edukasi ini penting untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya kontaminasi makanan dan cara menghindarinya, demi menjaga kesehatan keluarga.

Bagikan: Facebook X WhatsApp