Banyak orang mengira cacar ular atau herpes zoster hanya sekadar ruam nyeri yang muncul tiba-tiba. Namun, penyakit yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV) ini ternyata dapat menular, meskipun mekanismenya berbeda dengan penularan cacar air. Pemahaman yang tepat mengenai penularan herpes zoster penting untuk pencegahan penyebaran.
Herpes zoster merupakan reaktivasi dari virus Varicella-Zoster, virus yang sama penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus ini tidak sepenuhnya hilang dari tubuh, melainkan berdiam diri di saraf. Ketika kekebalan tubuh menurun, virus ini dapat aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, herpes zoster dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan ruam. Virus VZV yang terkandung dalam cairan tersebut dapat menginfeksi orang yang belum pernah menderita cacar air atau belum mendapatkan vaksin cacar air.
Penularan ini terjadi ketika seseorang menyentuh lepuhan yang terbuka, lalu menyentuh mata, mulut, atau hidung mereka. Penting untuk dicatat bahwa seseorang yang terinfeksi herpes zoster tidak menularkan herpes zoster kepada orang lain. Sebaliknya, mereka menularkan virus Varicella-Zoster yang dapat menyebabkan cacar air pada orang yang rentan.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala awal herpes zoster meliputi rasa nyeri, gatal, atau kesemutan di area kulit tertentu, yang biasanya diikuti munculnya ruam merah dan lepuhan berisi cairan. Ruam ini umumnya muncul di satu sisi tubuh, mengikuti jalur saraf.
Orang yang paling berisiko tertular virus VZV dari penderita herpes zoster adalah mereka yang belum pernah terkena cacar air, belum divaksinasi cacar air, atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kontak dengan penderita herpes zoster harus dihindari oleh kelompok rentan ini hingga semua lepuhan mengering dan tertutup keropeng.
Guna mencegah penularan dan mengurangi risiko komplikasi, penderita herpes zoster disarankan untuk menjaga kebersihan area ruam, menutup ruam dengan perban steril, dan menghindari kontak dekat dengan orang lain, terutama bayi, anak kecil, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Vaksinasi cacar air dan vaksin herpes zoster (shingles vaccine) juga direkomendasikan untuk mencegah infeksi awal dan reaktivasi virus.
Pihak berwenang kesehatan terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit ini. Informasi lebih lanjut mengenai pencegahan dan penanganan herpes zoster dapat diperoleh dari tenaga medis profesional atau situs resmi Kementerian Kesehatan.
