Bayeux Tapestry, permadani berharga yang menggambarkan peristiwa penaklukan Norman atas Inggris pada tahun 1066, berpotensi kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam hampir seribu tahun. Rencana peminjaman artefak bersejarah ini tengah dibahas antara Prancis dan Inggris, sebuah langkah yang disambut antusias oleh para sejarawan dan pecinta sejarah di kedua negara.
Perjanjian peminjaman jangka panjang sedang dalam tahap diskusi antara Kementerian Kebudayaan Prancis dan otoritas Inggris. Jika terealisasi, ini akan menjadi kali pertama Tapestry yang memiliki panjang 70 meter tersebut meninggalkan Prancis sejak dipindahkan ke Bayeux pada abad ke-19. Perjanjian ini diharapkan dapat ditandatangani dalam beberapa bulan ke depan, menurut laporan dari The Guardian.
Bayeux Tapestry saat ini disimpan di Musée de la Tapisserie de Bayeux di Normandy, Prancis, dan telah menjadi daya tarik wisata utama serta objek studi sejarah yang tak ternilai. Artefak ini terbuat dari sulaman benang wol pada kain linen dan menceritakan kisah invasi Raja William Sang Penakluk dari Normandia ke Inggris, yang berpuncak pada Pertempuran Hastings pada 14 Oktober 1066.
Kunjungan Raja Charles III ke Prancis pada September 2023 lalu menjadi momentum penting dalam upaya peminjaman ini. Selama kunjungan tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesediaan Prancis untuk meminjamkan Bayeux Tapestry ke Inggris. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, yang mengkonfirmasi adanya pembicaraan serius mengenai kemungkinan tersebut.
“Kami sedang bekerja keras untuk mewujudkan peminjaman ini. Ini adalah kesempatan bersejarah yang akan mempererat hubungan budaya antara Prancis dan Inggris,” ujar Rachida Dati dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh BBC News. Ia menambahkan bahwa detail mengenai durasi peminjaman dan kondisi spesifik lainnya masih dalam proses negosiasi.
Para pejabat Inggris menyambut baik potensi kembalinya Tapestry tersebut. Menteri Kebudayaan Inggris, Lucy Frazer, menyatakan antusiasmenya atas kemungkinan ini. “Ini adalah momen yang sangat menarik bagi Inggris dan Prancis. Kami berharap dapat menyambut permadani yang luar biasa ini di Inggris,” katanya, seperti dilaporkan oleh Reuters.
Bayeux Tapestry diperkirakan dibuat pada tahun 1070-an, tak lama setelah peristiwa yang digambarkannya. Sejarahnya yang panjang mencakup periode ketika Tapestry ini sempat hilang selama hampir 300 tahun sebelum ditemukan kembali pada abad ke-18. Sejak itu, Tapestry ini menjadi simbol penting dari hubungan historis antara Inggris dan Prancis.
Jika peminjaman ini berhasil, Bayeux Tapestry kemungkinan akan dipamerkan di sebuah museum di Inggris, meskipun lokasi spesifiknya belum diumumkan. Pihak berwenang kedua negara akan terus berkoordinasi untuk memastikan keamanan dan kelancaran proses peminjaman artefak yang sangat berharga ini.
