Keputusan untuk menunda anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dari tahun anggaran 2025 ke 2028 menuai perhatian publik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa penundaan ini didasarkan pada pertimbangan matang mengenai kesiapan anggaran dan implementasi program.
Program Makan Bergizi Gratis yang digagas oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka ini merupakan salah satu janji kampanye yang diharapkan dapat meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Namun, realisasinya tampaknya memerlukan waktu lebih panjang dari perkiraan awal.
Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, penundaan ini bukan berarti program dibatalkan, melainkan akan diintegrasikan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2028. “Nanti buat 2028,” ujar Airlangga dalam sebuah kesempatan, mengindikasikan bahwa perencanaan dan alokasi dana untuk program ini akan disusun secara lebih komprehensif untuk tahun anggaran tersebut.
Alasan utama di balik pergeseran jadwal ini adalah untuk memastikan program dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Diperlukan studi kelayakan yang mendalam, termasuk perhitungan kebutuhan anggaran yang riil, mekanisme distribusi, serta target penerima manfaat yang tepat sasaran. Selain itu, sinergi antar kementerian dan lembaga terkait juga menjadi faktor penting yang membutuhkan waktu untuk disiapkan.
Sebelumnya, program ini diperkirakan akan mulai dijalankan pada tahun 2025. Namun, dengan adanya pergeseran jadwal, pemerintah dan tim pelaksana akan memiliki lebih banyak waktu untuk mematangkan segala aspek teknis dan administratif. Hal ini diharapkan dapat meminimalkan potensi kendala di lapangan saat program mulai diimplementasikan.
Meskipun demikian, penundaan ini tentu menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak, terutama masyarakat yang menantikan dampak positif dari program ini. Diharapkan pemerintah dapat memberikan informasi yang lebih rinci mengenai peta jalan implementasi program MBG pasca-2028, termasuk tahapan-tahapan persiapan yang akan dilakukan.
Fokus pada tahun-tahun mendatang adalah bagaimana memastikan kesiapan fiskal negara untuk menanggung beban anggaran program sebesar ini, serta bagaimana memastikan efektivitas dan efisiensi program agar benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi gizi anak-anak Indonesia. Evaluasi berkala dan penyesuaian kebijakan kemungkinan akan terus dilakukan.
Dengan penundaan ini, fokus sementara akan beralih pada penguatan program-program gizi yang sudah ada dan persiapan infrastruktur pendukung yang diperlukan. Masyarakat perlu terus memantau perkembangan lebih lanjut mengenai detail teknis dan pendanaan program Makan Bergizi Gratis ini.
