Paparan abu vulkanik terhadap mata dapat menimbulkan rasa perih, gatal, bahkan iritasi serius. Fenomena ini umum terjadi saat gunung berapi meletus dan menyebarkan material halus ke udara, mengancam kesehatan organ penglihatan. Memahami penyebabnya menjadi langkah awal untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.
Menurut keterangan Dokter Spesialis Mata, dr. Arini Astari, Sp.M, rasa perih dan gatal pada mata akibat abu vulkanik disebabkan oleh sifat fisik dan kimia dari partikel abu itu sendiri. Abu vulkanik terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus, bahkan ukurannya bisa mencapai kurang dari 2 milimeter. Ketika partikel-partikel ini masuk ke mata, mereka bertindak sebagai benda asing.
Keberadaan benda asing di permukaan mata akan memicu respons alami tubuh. Lapisan tipis air mata yang melapisi kornea akan berusaha melarutkan dan membersihkan partikel abu tersebut. Namun, karena sifat abrasif dari abu vulkanik, proses ini justru dapat menggores permukaan kornea, menyebabkan rasa perih dan tidak nyaman.
Selain itu, beberapa komponen kimiawi dalam abu vulkanik juga dapat berkontribusi terhadap iritasi. Meskipun sebagian besar abu vulkanik bersifat inert, beberapa jenis dapat mengandung mineral atau gas yang, ketika bercampur dengan kelembaban mata, dapat meningkatkan tingkat keasaman atau menciptakan senyawa yang mengiritasi. Hal ini memicu pelepasan histamin dan zat kimia inflamasi lainnya, yang mengakibatkan rasa gatal dan kemerahan.
CNN Indonesia melaporkan pada September 2022, dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung berapi aktif, tetapi juga dapat terbawa angin hingga jarak ratusan kilometer. Oleh karena itu, kesadaran akan risiko ini penting bagi siapa saja yang tinggal di wilayah rawan bencana gunung berapi atau bepergian ke daerah tersebut.
Untuk mengatasi mata yang terkena abu vulkanik, langkah pertama yang paling krusial adalah tidak menggosok mata. Menggosok dapat memperparah iritasi dan bahkan menyebabkan luka pada kornea. Sebaliknya, segera bilas mata dengan air bersih mengalir atau larutan garam fisiologis (NaCl 0.9%). Membuka kelopak mata saat membilas akan membantu memastikan seluruh partikel abu terangkat.
Jika gejala tidak membaik setelah dibilas atau terasa semakin parah, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menilai tingkat kerusakan pada mata dan memberikan penanganan medis yang sesuai, seperti obat tetes mata anti-inflamasi atau antibiotik jika terjadi infeksi sekunder.
Dalam menghadapi potensi erupsi gunung berapi di masa mendatang, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Persiapan matang, termasuk penyediaan kacamata pelindung dan larutan pencuci mata, dapat meminimalkan risiko kesehatan mata saat terjadi hujan abu vulkanik.
