Tuesday, 8 September 2026
BREAKING
Ekonomi

Ekonomi RI Disebut Belum ‘Lari Kencang’, Menko Perekonomian Yakin Terhindar ‘Kutukan Pertumbuhan 5%’

Oleh Ishak September 8, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan sinyal optimistis bahwa perekonomian Indonesia mampu melampaui laju pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 5%. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi Indonesia belum menunjukkan akselerasi yang signifikan, meski berbagai upaya telah dilakukan pemerintah.

Airlangga Hartarto, yang akrab disapa Purbaya, menyampaikan keyakinannya dalam sebuah kesempatan yang mengindikasikan bahwa Indonesia akan mampu memutus apa yang sering disebut sebagai ‘kutukan pertumbuhan 5%’. Istilah ini merujuk pada fenomena di mana banyak negara berkembang mengalami kesulitan untuk menembus batas pertumbuhan ekonomi di atas 5% secara berkelanjutan, yang seringkali menjadi penanda transisi menuju negara berpenghasilan tinggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2024 tercatat sebesar 5,11% (year-on-year). Angka ini memang masih berada di atas 5%, namun laju pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan akselerasi yang diharapkan banyak pihak. Beberapa faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik global, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan suku bunga tinggi di negara maju, turut memberikan tekanan.

Di sisi lain, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kebijakan. Salah satu fokus utama adalah hilirisasi industri dan peningkatan nilai tambah produk domestik. Airlangga Hartarto kerap menekankan pentingnya industrialisasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Pemerintah juga mengandalkan investasi sebagai salah satu motor penggerak ekonomi. Upaya perbaikan iklim investasi terus dilakukan, termasuk melalui reformasi regulasi dan penyederhanaan birokrasi. Diharapkan, dengan iklim investasi yang lebih kondusif, aliran modal asing dapat meningkat dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih substansial.

Selain investasi, konsumsi domestik juga menjadi penopang penting bagi perekonomian Indonesia. Namun, daya beli masyarakat yang masih perlu didongkrak menjadi salah satu tantangan yang dihadapi. Program-program stimulus dan peningkatan pendapatan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga momentum konsumsi.

Kutukan pertumbuhan 5% ini memang menjadi momok bagi banyak negara berkembang. Untuk melepaskan diri darinya, diperlukan inovasi, peningkatan produktivitas, sumber daya manusia yang berkualitas, serta fundamental ekonomi yang kuat dan stabil. Indonesia, dengan potensi sumber daya alam dan pasar domestik yang besar, dinilai memiliki modal awal yang memadai.

Ke depannya, keberhasilan Indonesia dalam memutus ‘kutukan pertumbuhan 5%’ akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi kebijakan, kemampuan beradaptasi terhadap dinamika global, serta sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pemantauan terhadap indikator-indikator ekonomi kunci akan terus menjadi krusial untuk menilai kemajuan yang dicapai.

Bagikan: Facebook X WhatsApp