Saturday, 1 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Gigitan Kutu Kecil Ubah Hidup Wanita: Alergi Daging Merah Permanen

Oleh Destian August 1, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Seorang wanita di Amerika Serikat harus mengubah pola makannya secara drastis setelah didiagnosis mengalami alergi daging merah permanen akibat gigitan kutu kecil. Kondisi langka ini, yang dikenal sebagai sindrom alfa-gal, membuat tubuhnya bereaksi hebat terhadap karbohidrat yang ditemukan dalam daging mamalia seperti sapi, babi, dan domba.

Kasus ini menyoroti fenomena sindrom alfa-gal yang semakin dikenal di kalangan medis. Menurut para ahli, gigitan kutu bintang tunggal (Lone Star tick), yang umum ditemukan di wilayah timur Amerika Serikat, dapat menyuntikkan molekul alfa-gal ke dalam aliran darah manusia. Pada beberapa individu, sistem kekebalan tubuh kemudian mengembangkan antibodi terhadap molekul ini.

Akibatnya, ketika orang yang terinfeksi mengonsumsi daging merah, sistem kekebalan tubuhnya menyerang karbohidrat alfa-gal yang terdapat dalam daging tersebut, memicu reaksi alergi. Gejala reaksi ini bisa bervariasi, mulai dari gatal-gatal, ruam, pembengkakan, hingga reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa, dan biasanya muncul beberapa jam setelah mengonsumsi daging.

Dalam kasus wanita tersebut, yang tidak disebutkan namanya secara spesifik oleh media yang memberitakan, reaksi alergi yang dialaminya cukup parah. Ia harus sepenuhnya menghindari konsumsi daging merah, yang sebelumnya merupakan bagian penting dari dietnya. Keputusan ini berdampak besar pada kehidupan sehari-harinya, termasuk pilihan makanan dan aktivitas sosial.

Dr. Scott Commins, seorang ahli alergi dan imunologi dari University of North Carolina, yang telah banyak meneliti sindrom alfa-gal, menjelaskan kepada CNN Indonesia bahwa sindrom ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga dilaporkan di negara lain seperti Australia dan Eropa, meskipun kutu penyebabnya berbeda.

“Kami telah melihat peningkatan kasus di seluruh dunia. Yang menarik adalah bahwa sindrom alfa-gal adalah satu-satunya alergi makanan yang diketahui yang dipicu oleh gigitan serangga, dan itu adalah alergi yang dipicu oleh karbohidrat,” ujar Dr. Commins.

Para peneliti masih terus mempelajari lebih lanjut mengenai sindrom ini, termasuk faktor-faktor yang membuat sebagian orang mengembangkan alergi sementara yang lain tidak. Saat ini, belum ada obat untuk sindrom alfa-gal, dan satu-satunya cara penanganan adalah menghindari sumber alergen, yaitu daging mamalia.

Para ahli mengingatkan masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan gigitan kutu, untuk mengambil langkah pencegahan seperti menggunakan semprotan serangga yang mengandung DEET atau picaridin, mengenakan pakaian pelindung, dan memeriksa tubuh setelah beraktivitas di luar ruangan. Bagi mereka yang mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi daging, disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

Bagikan: Facebook X WhatsApp