Mata yang kemasukan abu vulkanik bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan iritasi. Menanggapi potensi bahaya tersebut, para dokter memberikan imbauan tegas untuk tidak mengucek mata ketika terjadi kelilipan abu vulkanik. Tindakan ini justru dapat memperparah kondisi mata.
Dokter spesialis mata, Dr. H. M. Sidik, Sp.M(K), menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki tekstur yang kasar dan dapat menyebabkan luka gores pada kornea mata. Jika mata yang terkena abu vulkanik langsung dikucek, partikel abu tersebut akan semakin masuk dan menggores permukaan mata, yang berujung pada iritasi, peradangan, bahkan luka pada kornea.
Menurut Dr. Sidik, penanganan pertama yang paling tepat adalah dengan membilas mata menggunakan air bersih mengalir. Air akan membantu mengeluarkan partikel abu yang menempel pada mata secara perlahan. Pastikan air yang digunakan adalah air bersih dan steril, seperti air minum dalam kemasan atau air yang sudah direbus dan didinginkan.
Selain membilas, langkah selanjutnya yang dianjurkan adalah menggunakan larutan saline atau cairan infus NaCl 0.9%. Cairan ini memiliki sifat yang lebih mendekati cairan alami mata dan dapat membantu membersihkan sisa-sisa abu dengan lebih efektif tanpa menimbulkan iritasi tambahan. Penggunaan kedua metode ini diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan pada mata.
Apabila gejala iritasi, kemerahan, atau rasa nyeri tidak kunjung hilang setelah melakukan pembilasan dan penggunaan larutan saline, langkah selanjutnya adalah segera memeriksakan diri ke dokter mata. Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan tingkat keparahan cedera dan memberikan penanganan medis yang sesuai. Mengabaikan gejala dapat berisiko menyebabkan komplikasi yang lebih serius pada penglihatan.
Penting bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi paparan abu vulkanik, terutama saat terjadi erupsi gunung berapi. Memahami cara penanganan yang benar dapat meminimalkan risiko cedera mata dan menjaga kesehatan penglihatan.
