Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belakangan ini memberikan pukulan telak bagi berbagai sektor usaha di Indonesia, tak terkecuali industri es krim. Lonjakan biaya operasional, terutama untuk transportasi dan distribusi, memaksa para pelaku bisnis untuk meninjau ulang strategi mereka demi menjaga kelangsungan usaha.
Kenaikan harga BBM yang diberlakukan pemerintah pada awal September 2022 lalu, seperti yang dialami Pertalite, Solar, dan Pertamax, langsung berdampak pada ongkos operasional. Bagi produsen es krim, biaya pengangkutan bahan baku dari pemasok ke pabrik, serta distribusi produk jadi ke pasar dan konsumen, menjadi komponen biaya yang signifikan.
Banyak produsen es krim yang mengandalkan armada truk untuk menjaga suhu dingin produk selama perjalanan. Kenaikan harga BBM secara otomatis meningkatkan biaya operasional armada tersebut. Hal ini diperparah dengan kebutuhan akan pendingin (freezer) yang juga membutuhkan energi listrik, yang harganya juga berpotensi naik seiring dengan kenaikan harga energi secara umum.
Salah satu dampak langsung yang dirasakan adalah peningkatan biaya logistik yang bisa mencapai dua kali lipat. Hal ini diungkapkan oleh salah satu produsen es krim skala rumahan yang enggan disebutkan namanya. “Dulu biaya antar ke satu area bisa Rp 50 ribu, sekarang bisa sampai Rp 100 ribu lebih. Ini jelas membebani,” ujarnya.
Kondisi ini memaksa para pengusaha es krim untuk mencari berbagai solusi. Beberapa opsi yang mulai dipertimbangkan antara lain adalah menaikkan harga jual produk, mengurangi margin keuntungan, atau bahkan merasionalisasi rute distribusi agar lebih efisien. Namun, menaikkan harga jual menjadi pilihan yang dilematis, mengingat daya beli masyarakat yang juga perlu dipertimbangkan.
Asosiasi Pengusaha Es Krim Indonesia (APEKI) sendiri telah menyuarakan kekhawatiran mereka terkait dampak kenaikan harga BBM ini. Mereka mengkhawatirkan jika kenaikan biaya operasional terus berlanjut, industri es krim, terutama UMKM, bisa terancam gulung tikar. Kenaikan harga es krim yang signifikan juga dikhawatirkan akan membuat produk mereka kurang terjangkau bagi konsumen.
Selain biaya transportasi, kenaikan harga BBM juga berpotensi memicu kenaikan harga bahan baku lainnya yang memerlukan energi dalam proses produksinya. Meskipun bahan baku utama es krim seperti susu dan gula mungkin tidak secara langsung terpengaruh oleh harga BBM, proses pengolahan dan pengawetan bahan-bahan tersebut bisa saja mengalami peningkatan biaya.
Para pelaku usaha berharap ada kebijakan yang dapat meringankan beban mereka, seperti subsidi BBM khusus untuk sektor produksi dan distribusi makanan, atau insentif lainnya. Pantauan lebih lanjut akan terus dilakukan untuk melihat bagaimana industri es krim dapat beradaptasi dan bertahan di tengah tantangan ekonomi yang ada.
