Singapura diselimuti kabut asap tebal pada hari Selasa, 19 September 2023, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah regional. Fenomena ini berdampak signifikan pada kualitas udara di berbagai lokasi, menyebabkan jarak pandang menurun drastis.
Menurut keterangan Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA), Indeks Standar Polutan (PSI) di beberapa wilayah tercatat berada pada kategori ‘tidak sehat’. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, PSI di Ang Mo Kio dilaporkan mencapai 103, sementara di Jurong tercatat 101. Angka-angka ini mengindikasikan adanya peningkatan konsentrasi partikel halus di udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit pernapasan atau jantung. “Penduduk disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, serta anak-anak dan lansia,” demikian pernyataan NEA yang dirilis pada hari yang sama.
NEA juga merekomendasikan penggunaan masker N95 jika terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi diri dari paparan asap. Kualitas udara yang memburuk ini merupakan dampak langsung dari kebakaran hutan yang terjadi di negara tetangga, yang asapnya terbawa angin hingga ke Singapura.
Kondisi ini mengingatkan kembali pada peristiwa serupa yang pernah terjadi di Singapura, di mana kabut asap akibat karhutla secara rutin menjadi masalah tahunan. Pemerintah Singapura terus berupaya mengatasi masalah ini, termasuk melalui kerja sama regional dengan negara-negara tetangga untuk menekan angka kebakaran hutan.
