Friday, 4 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Waspada Sayuran Berformalin: Pakar Ungkap Cara Deteksi Cepat dan Aman

Oleh Destian September 4, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Belakangan ini beredar kekhawatiran mengenai peredaran sayuran yang dicampur formalin untuk mengawetkan kesegarannya. Fenomena ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terutama konsumen yang mengutamakan kesehatan. Menanggapi isu ini, para ahli pangan dan kesehatan memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri sayuran yang patut dicurigai mengandung formalin serta cara mendeteksinya secara mandiri.

Formalin, yang merupakan larutan tidak berwarna dengan bau menyengat, sebenarnya adalah bahan kimia yang umum digunakan untuk pengawetan jenazah dan disinfektan. Penggunaannya dalam bahan pangan sangat dilarang karena dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan manusia, mulai dari iritasi mata, hidung, tenggorokan, hingga masalah pencernaan yang lebih serius seperti mual, muntah, diare, bahkan dapat bersifat karsinogenik atau memicu kanker dalam jangka panjang.

Menurut pakar keamanan pangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Ir. Sri Handayani, M.T., salah satu indikator awal yang patut dicurigai adalah tampilan sayuran yang terlihat sangat segar dan kaku, bahkan setelah beberapa hari disimpan. Sayuran yang tidak menggunakan pengawet biasanya akan sedikit layu atau berubah teksturnya seiring waktu. Sebaliknya, sayuran yang diduga berformalin cenderung mempertahankan kekenyalan dan kesegarannya secara tidak wajar.

Ciri lain yang bisa diamati adalah aroma. Prof. Sri Handayani menjelaskan bahwa sayuran segar umumnya memiliki aroma khasnya masing-masing. Namun, jika sayuran mengeluarkan bau yang menyengat, tajam, dan tidak lazim seperti bau bahan kimia, ini bisa menjadi tanda adanya kontaminasi formalin. Terkadang, bau menyengat ini bisa tersamarkan jika sayuran tersebut dicampur dengan bumbu atau dicuci berulang kali.

Untuk melakukan deteksi mandiri yang lebih akurat tanpa alat laboratorium, masyarakat bisa mencoba metode sederhana. Salah satu cara yang sering disarankan adalah dengan mencelupkan ujung jari ke dalam air rendaman sayuran tersebut. Jika terasa sedikit licin atau lengket seperti lendir, ini bisa menjadi indikasi adanya bahan kimia tambahan, termasuk formalin. Namun, metode ini perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak menjamin 100% akurasi.

Selain itu, para ahli juga menyarankan agar konsumen lebih selektif dalam memilih tempat berbelanja. Membeli dari sumber yang terpercaya, seperti pasar tradisional yang memiliki reputasi baik atau toko yang menjamin kualitas produknya, dapat mengurangi risiko terpapar pangan olahan yang tidak aman. Perhatikan juga label kemasan jika membeli produk sayuran yang sudah dikemas.

Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Pertanian terus berupaya melakukan pengawasan dan uji sampling secara berkala di berbagai titik distribusi pangan. Kepala BPOM, Penny K. Lukito, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk mengenali ciri-ciri pangan yang tidak aman dan melaporkan jika menemukan praktik penjualan bahan pangan yang mencurigakan.

Meskipun deteksi mandiri dapat memberikan indikasi awal, pengujian laboratorium tetap menjadi metode paling akurat untuk memastikan keberadaan formalin. Uji cepat (rapid test) untuk formalin juga mulai tersedia dan dapat digunakan oleh dinas terkait atau bahkan oleh pedagang besar untuk memastikan kualitas dagangannya sebelum didistribusikan ke pasar.

Masyarakat diharapkan tidak panik namun tetap waspada. Dengan mengetahui ciri-ciri dan cara deteksi dini, konsumen dapat lebih berdaya dalam memilih produk pangan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi keluarga. Edukasi berkelanjutan dan pengawasan yang ketat dari pihak berwenang menjadi kunci untuk memberantas peredaran pangan berbahaya ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp