India kini menghadapi tantangan demografis serius seiring dengan anjloknya angka kelahiran hingga berada di bawah tingkat penggantian populasi. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan penuaan populasi yang semakin cepat di negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut.
Penurunan angka kelahiran ini tidak terjadi secara merata di seluruh India. Data terbaru menunjukkan bahwa total fertilitas (TFR) nasional kini berada di bawah 2,1 anak per wanita, ambang batas yang diperlukan untuk mempertahankan populasi dari generasi ke generasi. Beberapa negara bagian, seperti Kerala dan Tamil Nadu, bahkan telah mencatat TFR yang jauh lebih rendah, mengindikasikan tren yang lebih mendalam.
Berbagai faktor kompleks berkontribusi pada tren penurunan angka kelahiran ini. Salah satunya adalah peningkatan tingkat pendidikan, terutama di kalangan perempuan. Semakin banyak perempuan yang memilih untuk melanjutkan pendidikan dan menunda atau mengurangi jumlah anak demi mengejar karier dan tujuan pribadi. “Pendidikan membuka lebih banyak pilihan dan aspirasi bagi perempuan selain hanya menjadi ibu,” ujar seorang sosiolog yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, biaya hidup yang terus meningkat menjadi beban signifikan bagi banyak keluarga. Kebutuhan untuk membesarkan anak, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari, menuntut pengeluaran yang tidak sedikit. Hal ini membuat banyak pasangan berpikir ulang untuk memiliki banyak anak, atau bahkan menunda memiliki anak sama sekali.
Ketimpangan wilayah juga memainkan peran penting. Di daerah perkotaan yang padat dan biaya hidup tinggi, angka kelahiran cenderung lebih rendah dibandingkan dengan daerah pedesaan. Namun, tren penurunan ini juga mulai terlihat di beberapa wilayah pedesaan seiring dengan perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi.
Pemerintah India sendiri telah menyadari ancaman ini dan mulai merumuskan berbagai kebijakan untuk mengatasi potensi masalah penuaan populasi. Fokusnya meliputi peningkatan layanan kesehatan, jaminan sosial bagi lansia, dan upaya untuk mendorong angka kelahiran melalui insentif bagi keluarga muda. Namun, perubahan demografis yang fundamental ini membutuhkan waktu dan strategi jangka panjang untuk dapat dikelola secara efektif.
