Gofar Hilman, seorang tokoh publik, baru-baru ini mengangkat isu menarik mengenai potensi kembalinya spesies yang telah lama terperangkap dalam es. Fenomena ini muncul seiring dengan mencairnya gletser secara masif, seperti yang terjadi belakangan ini di Nepal. Gofar menyoroti bagaimana pelelehan es tersebut dapat menghidupkan kembali organisme yang sebelumnya diduga telah ‘mati suri’ selama ribuan tahun.
Dalam diskusinya, Gofar Hilman mengemukakan bahwa lapisan es yang tebal dan dingin telah berfungsi sebagai semacam ‘kapsul waktu’ biologis. Organisme, mulai dari virus hingga mikroba, dapat bertahan dalam kondisi beku tersebut untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan mungkin hingga ratusan ribu tahun. Ketika gletser mencair akibat perubahan iklim, lingkungan yang sebelumnya stabil ini berubah, membuka kemungkinan bagi organisme tersebut untuk kembali aktif.
Isu ini tidak luput dari perhatian para ilmuwan. Peneliti di bidang terkait memberikan pandangan ilmiah untuk menjelaskan fenomena yang diangkat oleh Gofar. Mereka menjelaskan bahwa memang benar, dalam kondisi ekstrem dan beku, banyak mikroorganisme yang dapat memasuki keadaan dormansi atau ‘mati suri’ yang sangat panjang. Selama periode ini, metabolisme mereka melambat hingga hampir tidak terdeteksi, memungkinkan mereka bertahan dari kondisi yang mematikan.
Para ahli biologi kelautan dan mikrobiologi lingkungan telah menemukan bukti adanya mikroba yang mampu bertahan dalam lapisan es Arktik dan Antartika selama puluhan ribu tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan keberhasilan dalam ‘menghidupkan kembali’ bakteri purba yang diambil dari sampel es berusia ratusan ribu tahun. Proses ini melibatkan pemulihan kondisi lingkungan yang sesuai, seperti suhu, nutrisi, dan kelembaban, yang memungkinkan organisme tersebut untuk melanjutkan siklus hidupnya.
Namun, para peneliti juga menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati. Meskipun potensi ‘kebangkitan’ spesies purba ini menarik, ada juga kekhawatiran mengenai dampak ekologisnya. Spesies yang kembali aktif ini mungkin tidak memiliki predator alami di lingkungan baru atau dapat menjadi pesaing bagi spesies yang ada saat ini. Selain itu, beberapa organisme yang dilepaskan dari es, seperti virus, berpotensi membawa risiko kesehatan bagi ekosistem dan manusia jika mereka memiliki patogenitas yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Oleh karena itu, pemantauan ilmiah yang ketat dan penelitian lebih lanjut sangat diperlukan. Para ilmuwan terus mempelajari sampel dari gletser yang mencair untuk mengidentifikasi organisme yang muncul kembali dan mengevaluasi potensi dampaknya. Diskusi yang diangkat oleh Gofar Hilman ini menjadi pengingat akan kompleksitas alam dan konsekuensi yang mungkin timbul dari perubahan iklim global yang menyebabkan pencairan es secara masif.
