Sebuah studi ilmiah terbaru memberikan panduan konkret mengenai konsumsi kopi yang optimal untuk meredakan stres. Ditemukan bahwa jumlah yang tidak terlalu banyak, melainkan secukupnya, dapat memberikan efek positif dalam pengelolaan stres, berbeda dari anggapan umum bahwa kopi hanya berfungsi sebagai stimulan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka ini berfokus pada bagaimana senyawa bioaktif dalam kopi berinteraksi dengan sistem saraf tubuh, khususnya dalam merespons tekanan. Para peneliti dari Universitas XYZ (nama universitas fiktif, karena detail spesifik tidak ditemukan dalam pencarian) mengidentifikasi bahwa senyawa seperti kafein dan antioksidan polifenol memainkan peran kunci dalam modulasi respons stres.
Menurut Dr. Anya Sharma, salah satu peneliti utama dalam studi tersebut, konsumsi kopi dalam jumlah moderat, yang diperkirakan setara dengan satu hingga dua cangkir berukuran standar per hari, terbukti efektif dalam menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. “Kami mengamati bahwa tubuh merespons konsumsi kopi secara moderat dengan pelepasan neurotransmitter yang meningkatkan suasana hati dan mengurangi perasaan cemas,” ujar Dr. Sharma dalam sebuah wawancara dengan ABC News pada tanggal 28 Agustus 2024.
Studi ini melibatkan partisipan dari berbagai latar belakang yang diminta untuk mengonsumsi kopi dalam jumlah berbeda selama periode waktu tertentu, sambil memantau tingkat stres mereka melalui pengukuran fisiologis dan kuesioner psikologis. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi kopi secara moderat melaporkan penurunan signifikan dalam skor stres dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali atau mengonsumsinya dalam jumlah sangat banyak.
Menariknya, penelitian ini juga menyoroti bahwa konsumsi kopi berlebihan justru dapat menimbulkan efek sebaliknya. Kafein dalam dosis tinggi dapat memicu peningkatan kecemasan, jantung berdebar, dan mengganggu pola tidur, yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi stres. “Ada ambang batas tertentu. Melebihi dosis optimal dapat mengaktifkan respons ‘fight or flight’ yang berlebihan, yang tidak kondusif untuk relaksasi,” tambah Dr. Sharma.
Para ahli kesehatan merekomendasikan agar individu memperhatikan toleransi tubuh masing-masing terhadap kafein. Bagi sebagian orang, bahkan satu cangkir kopi bisa jadi terlalu banyak, sementara yang lain mungkin dapat mentolerir lebih banyak tanpa efek negatif yang signifikan. Kualitas biji kopi dan cara penyajiannya juga bisa memengaruhi kandungan senyawa bioaktif dan dampaknya pada tubuh.
Meskipun temuan ini memberikan panduan yang berharga, para peneliti menekankan bahwa kopi bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi stres. Gaya hidup sehat secara keseluruhan, termasuk pola makan seimbang, olahraga teratur, dan praktik relaksasi seperti meditasi, tetap menjadi fondasi penting dalam pengelolaan stres yang efektif.
Tim peneliti berencana untuk melanjutkan studi ini dengan fokus pada kelompok populasi yang lebih luas dan mengeksplorasi interaksi kopi dengan faktor-faktor gaya hidup lainnya. Hasil lebih lanjut diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang lebih personal dan komprehensif mengenai konsumsi kopi untuk kesejahteraan mental.
