Pontianak digemparkan dengan fenomena langit yang berubah warna menjadi kuning pekat pada beberapa waktu terakhir. Kehebohan ini memicu berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya angkat bicara untuk memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab perubahan warna langit yang tak biasa ini.
Fenomena langit kuning pekat ini pertama kali dilaporkan dan menjadi viral di media sosial sejak beberapa hari terakhir. Warga Pontianak dan sekitarnya mengunggah foto dan video yang menunjukkan kondisi langit yang berbeda dari biasanya, diselimuti lapisan warna kuning yang cukup intens, terutama saat pagi dan sore hari. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan keingintahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Menanggapi perhatian publik, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak memberikan penjelasan bahwa fenomena ini disebabkan oleh kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat. Kabut asap tersebut mengandung partikel-partikel halus yang mampu memantulkan dan menyebarkan cahaya matahari dengan cara tertentu, sehingga menghasilkan efek warna kuning pada langit.
Menurut data yang dihimpun BMKG, tingkat konsentrasi partikel di udara memang meningkat signifikan akibat kebakaran yang terjadi. Partikel-partikel seperti debu, jelaga, dan senyawa kimia lainnya dari pembakaran biomassa terangkat ke atmosfer dan menyebar luas. Ketika sinar matahari melewati lapisan udara yang mengandung partikel-partikel ini, panjang gelombang cahaya biru cenderung tersebar lebih banyak, sementara panjang gelombang merah dan kuning lebih dominan sampai ke mata pengamat, menciptakan tampilan langit berwarna kuning.
Peningkatan tutupan asap ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Angin yang bertiup dari arah sumber api membawa asap tersebut ke area pemukiman. Selain itu, kondisi atmosfer yang stabil dengan minimnya angin vertikal juga memungkinkan asap bertahan di lapisan bawah atmosfer dalam jangka waktu lebih lama.
BMKG terus memantau perkembangan kualitas udara dan sebaran asap di wilayah Kalimantan Barat. Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak secara rutin mengeluarkan informasi terkait prakiraan cuaca dan potensi peningkatan konsentrasi asap. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti imbauan dari pihak berwenang terkait kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Fenomena langit kuning ini juga mengingatkan kembali pentingnya upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Karhutla tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga memicu bencana kabut asap yang dapat meluas hingga ke negara tetangga.
Pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana, terus berupaya memadamkan titik api dan mengendalikan penyebaran karhutla. Diharapkan dengan semakin membaiknya kondisi cuaca dan intensitas pemadaman, kabut asap akan segera berkurang dan langit Pontianak kembali jernih.
