Sebanyak 11 orang dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi jamur liar yang mereka kumpulkan saat berkunjung ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat. Insiden ini memaksa para korban segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif akibat gejala keracunan yang parah.
Kejadian nahas ini terjadi pada hari Minggu, 30 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, para korban yang terdiri dari rombongan pengunjung taman nasional tersebut, diduga kuat memetik dan mengolah jamur liar yang tumbuh di area hutan TNGGP untuk dikonsumsi.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Haryono, membenarkan adanya insiden keracunan tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai belasan pengunjung yang mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare setelah mengonsumsi jamur yang mereka bawa pulang.
“Kami menerima laporan pada hari Minggu kemarin, ada sekitar 11 orang pengunjung yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi jamur liar. Mereka langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Haryono dalam keterangan pers yang dikutip oleh beberapa media nasional.
Para korban kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya di sekitar wilayah Bogor. Kondisi para korban dilaporkan bervariasi, namun sebagian besar menunjukkan gejala keracunan yang cukup serius sehingga memerlukan perawatan inap.
Pihak Balai Besar TNGGP mengimbau kepada seluruh pengunjung untuk tidak memetik, mengumpulkan, apalagi mengonsumsi tumbuhan liar, termasuk jamur, yang ditemukan di dalam kawasan taman nasional. Hal ini penting mengingat banyak jenis jamur liar yang memiliki kemiripan antara yang aman dikonsumsi dan yang beracun, sehingga sangat berisiko bagi masyarakat awam.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Kami terus berupaya memberikan edukasi kepada pengunjung agar tidak mengambil atau mengonsumsi apapun dari dalam kawasan taman nasional. Jamur liar sangat berisiko, karena identifikasi jenisnya memerlukan keahlian khusus,” tegas Haryono.
TNGGP sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk berbagai jenis flora dan fauna. Namun, kekayaan alam ini juga menyimpan potensi bahaya jika tidak dikelola dan diakses dengan bijak oleh masyarakat.
Pihak pengelola TNGGP berencana untuk meningkatkan pengawasan dan sosialisasi mengenai larangan memetik hasil hutan non-kayu, terutama jamur, bagi para pengunjung. Edukasi lebih lanjut akan disampaikan melalui papan informasi, petugas jaga, dan materi promosi taman nasional.
Pihak berwenang masih terus melakukan pendataan lebih lanjut mengenai kronologi pasti kejadian dan jenis jamur yang dikonsumsi oleh para korban. Sementara itu, fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis yang optimal hingga pulih sepenuhnya.
