Friday, 28 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Waspada, 5 Makanan Ini Bisa Ganggu Konsentrasi Anak dan Perlu Dibatasi

Oleh Destian August 28, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Kualitas konsentrasi anak sangat dipengaruhi oleh pola makan sehari-hari. Beberapa jenis makanan yang lazim dikonsumsi ternyata berpotensi mengganggu kemampuan anak untuk fokus, bahkan dapat membuat mereka menjadi lamban dalam berpikir. Para ahli gizi dan kesehatan anak menyarankan agar orang tua membatasi asupan beberapa makanan tersebut demi mendukung perkembangan kognitif anak yang optimal.

Menurut Dr. Nadia Ramdhani, M.Gizi, Sp.GK, yang dikutip oleh CNN Indonesia, makanan dengan indeks glikemik tinggi adalah salah satu penyebab utama penurunan konsentrasi. Makanan jenis ini menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, diikuti oleh penurunan drastis. Perubahan gula darah yang fluktuatif ini berdampak negatif pada fungsi otak, termasuk kemampuan untuk berkonsentrasi dan mengingat.

Salah satu kategori makanan yang perlu diwaspadai adalah makanan olahan tinggi gula. Ini mencakup berbagai jenis permen, kue kering, biskuit manis, minuman bersoda, dan sereal sarapan yang diperkaya gula tambahan. Kandungan gula yang tinggi dalam makanan ini dapat memicu pelepasan dopamin secara berlebihan, yang pada awalnya memberikan sensasi senang, namun kemudian dapat menyebabkan kecanduan dan gangguan suasana hati, serta mengurangi kemampuan fokus.

Selain makanan manis, makanan cepat saji (fast food) juga menjadi sorotan. Burger, kentang goreng, ayam goreng, dan pizza seringkali tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori, namun rendah nutrisi penting. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics pada tahun 2011 pernah mengaitkan konsumsi makanan cepat saji yang sering dengan penurunan kinerja akademis pada anak-anak. Lemak jenuh berlebih dapat mempengaruhi aliran darah ke otak, sementara rendahnya serat dan nutrisi penting membatasi pasokan energi yang stabil bagi otak.

Makanan yang mengandung pewarna dan pengawet buatan juga berpotensi menimbulkan masalah. Beberapa penelitian, seperti yang diulas oleh The Guardian, menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi pewarna makanan tertentu dengan hiperaktivitas dan kesulitan konsentrasi pada sebagian anak. Meskipun dampaknya bervariasi pada setiap individu, pembatasan asupan makanan dengan aditif buatan disarankan sebagai langkah pencegahan.

Lemak trans, yang sering ditemukan dalam makanan olahan seperti margarin, kue-kue komersial, dan makanan ringan kemasan, juga berbahaya bagi kesehatan otak anak. Lemak jenis ini tidak hanya buruk untuk kesehatan jantung, tetapi juga dapat mengganggu fungsi kognitif dan meningkatkan risiko peradangan dalam tubuh, yang dapat mempengaruhi kinerja otak.

Sebagai alternatif, para ahli merekomendasikan untuk lebih banyak memberikan anak makanan utuh yang kaya nutrisi. Buah-buahan segar, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan lemak sehat seperti yang terdapat dalam alpukat dan kacang-kacangan dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan menyediakan energi yang dibutuhkan otak untuk berfungsi optimal. Penting bagi orang tua untuk aktif memantau asupan makanan anak dan membuat pilihan yang mendukung kesehatan fisik dan mental mereka.

Langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana institusi pendidikan dan orang tua dapat berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan sehat bagi anak. Diskusi lebih lanjut mengenai kampanye edukasi gizi dan regulasi terkait kandungan nutrisi pada makanan anak diperkirakan akan terus berkembang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp