Friday, 28 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Limfoma Mengintai Meski Hidup Sehat: Dokter Ingatkan Faktor Risiko Lain yang Tak Terduga

Oleh Destian August 28, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Gaya hidup sehat yang dijalani secara konsisten ternyata belum tentu menjadi jaminan mutlak terhindar dari penyakit limfoma. Para ahli medis menekankan bahwa faktor genetik, paparan lingkungan, serta riwayat infeksi tertentu turut memainkan peran signifikan dalam risiko seseorang terkena kanker kelenjar getah bening ini.

Pernyataan ini disampaikan oleh sejumlah dokter spesialis hematologi-onkologi, menanggapi persepsi umum yang kerap mengaitkan limfoma semata-mata dengan pola makan buruk atau kurangnya aktivitas fisik. Dr. dr. Ganesja A. Harun, Sp.PD-KHOM, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam sebuah kesempatan, pernah menjelaskan bahwa limfoma adalah kanker yang berasal dari sel limfosit, salah satu komponen penting dalam sistem kekebalan tubuh. Sel limfosit yang seharusnya berfungsi melawan infeksi, mengalami mutasi genetik dan berkembang secara tak terkendali.

Lebih lanjut, para ahli mengidentifikasi beberapa faktor risiko lain yang perlu diwaspadai. Riwayat infeksi virus tertentu, seperti Epstein-Barr Virus (EBV) yang menyebabkan mononukleosis, diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko beberapa jenis limfoma. Selain itu, sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat kondisi medis lain atau penggunaan obat imunosupresan juga dapat menjadi faktor pemicu.

Dalam konteks paparan lingkungan, penelitian menunjukkan adanya kemungkinan kaitan antara paparan pestisida dan bahan kimia industri tertentu dengan peningkatan risiko limfoma. Meskipun hubungan sebab-akibat langsung seringkali kompleks dan memerlukan studi lebih lanjut, kewaspadaan terhadap lingkungan kerja dan tempat tinggal yang terpapar zat berbahaya tetap penting.

Faktor genetik atau riwayat keluarga juga tidak dapat diabaikan. Meskipun limfoma bukan penyakit yang sepenuhnya diturunkan, memiliki anggota keluarga dekat yang pernah menderita limfoma dapat meningkatkan risiko seseorang. Hal ini mengindikasikan adanya kerentanan genetik yang mungkin diwariskan.

Dr. dr. Arifin Putranto, Sp.PD-KHOM, F.A.S.H., F.A.S.I.A. dari RS Pondok Indah Puri Indah, pernah menggarisbawahi pentingnya deteksi dini. Ia menekankan bahwa gejala limfoma bisa bervariasi dan seringkali mirip dengan penyakit ringan lainnya. Gejala umum yang patut diwaspadai meliputi pembengkakan kelenjar getah bening yang tidak nyeri di leher, ketiak, atau selangkangan, demam yang tidak dapat dijelaskan, penurunan berat badan drastis, kelelahan ekstrem, serta keringat malam yang berlebihan.

Meskipun gaya hidup sehat tidak menjamin kekebalan total terhadap limfoma, penting untuk tetap menjalaninya. Pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menghindari merokok, dan menjaga berat badan ideal tetap merupakan fondasi penting untuk kesehatan secara keseluruhan dan dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh. Namun, kesadaran akan faktor risiko lain dan pentingnya pemeriksaan medis rutin jika muncul gejala yang mencurigakan menjadi kunci utama dalam penanganan limfoma.

Para profesional medis terus mendorong masyarakat untuk tidak hanya fokus pada pencegahan melalui gaya hidup, tetapi juga untuk aktif mencari informasi mengenai faktor risiko limfoma dan berkonsultasi dengan dokter jika memiliki kekhawatiran. Upaya edukasi berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kompleksitas penyakit ini dan pentingnya deteksi dini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp