Ratusan ikan yang dijuluki ‘ikan kiamat’ ditemukan mati dan terdampar di sepanjang Pantai Pink, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (25/8/2023). Fenomena tak biasa ini menarik perhatian warga dan menimbulkan kekhawatiran, mendorong otoritas setempat untuk mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak mendekati area pantai.
Ikan-ikan yang terdampar tersebut diketahui merupakan spesies ‘ikan oarfish’ atau ‘ikan layaran’, yang dalam beberapa budaya dianggap sebagai pertanda datangnya bencana alam besar atau ‘kiamat’. Namun, para ilmuwan lebih melihat fenomena ini sebagai indikator perubahan kondisi lingkungan laut.
Penemuan massal ikan oarfish mati ini pertama kali dilaporkan oleh nelayan setempat pada pagi hari. Petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB segera turun ke lokasi untuk melakukan investigasi dan identifikasi penyebab kematian ikan-ikan tersebut.
Menurut Kepala DKP NTB, H. Mohammad Khairul, pihaknya telah mengambil sampel ikan dan air laut di sekitar lokasi untuk dianalisis di laboratorium. “Kami sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti kematian massal ikan ini. Sampel sudah diambil dan sedang diuji,” ujar Khairul, seperti dikutip dari pemberitaan lokal.
Fenomena terdamparnya ikan oarfish sebenarnya bukan hal baru. Di Jepang, ikan ini dikenal sebagai ‘ryugu no tsukai’ atau ‘utusan dari istana naga’. Kepercayaan masyarakat Jepang menyebutkan bahwa kemunculan ikan ini di permukaan, terutama dalam jumlah banyak, bisa menjadi pertanda gempa bumi atau tsunami.
Meski demikian, para ahli kelautan cenderung menghubungkan fenomena ini dengan perubahan suhu laut, arus, atau pasokan makanan. Ikan oarfish hidup di perairan dalam dan jarang naik ke permukaan. Munculnya mereka di pantai bisa jadi indikasi adanya gangguan ekosistem di habitat aslinya.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada. Larangan sementara untuk mendekati area pantai diberlakukan untuk mempermudah petugas melakukan penelitian dan mencegah penyebaran potensi penyakit dari bangkai ikan.
Hasil analisis laboratorium terhadap sampel ikan dan air laut diharapkan dapat segera memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab pasti fenomena ini. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau oleh DKP NTB dan lembaga terkait.
