Tuesday, 25 August 2026
BREAKING
Teknologi

Misteri Kabut Asap Karhutla: Mengapa Jarak Tak Lagi Jadi Batasan?

Oleh Achmad August 25, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata mampu menjelajah jauh melampaui area titik api. Fenomena ini menjelaskan mengapa wilayah yang diselimuti kabut asap belum tentu berdekatan dengan lokasi kebakaran. Pergerakan udara menjadi kunci utama yang membawa partikel-partikel halus dari asap tersebut melintasi jarak yang signifikan.

Menurut Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Eng., seorang pakar kebakaran hutan dan lahan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), asap yang dihasilkan dari pembakaran dapat terbawa oleh angin. “Partikel asap karhutla dapat terbawa pergerakan udara sehingga wilayah yang terdampak kabut asap belum tentu berada dekat dengan sumber kebakaran,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa persebaran asap tidak terbatas pada radius tertentu dari sumber api.

Dampak kabut asap ini telah dirasakan oleh berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 2019, misalnya, sejumlah provinsi mengalami kualitas udara buruk akibat asap karhutla. Provinsi Riau pada bulan September 2019 tercatat mengalami Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tertinggi mencapai level berbahaya, yaitu 472. Angka ini menunjukkan tingkat pencemaran udara yang sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat.

Tak hanya di Riau, Provinsi Jambi juga tak luput dari ancaman kabut asap. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jambi pada 18 September 2019 mencatat bahwa jarak pandang di Kota Jambi hanya berkisar 300 meter akibat pekatnya asap. Kondisi serupa terjadi di Palembang, Sumatera Selatan, di mana pada tanggal yang sama, jarak pandang hanya mencapai 200 meter.

Lebih jauh lagi, dampak karhutla bahkan merambah hingga ke negara tetangga. Pada September 2019, Singapura melaporkan peningkatan kualitas udara yang signifikan akibat asap yang terbawa angin dari Indonesia. Konsentrasi partikel PM2.5 di negara tersebut sempat melonjak, menimbulkan kekhawatiran bagi warganya. Hal ini menunjukkan bahwa asap karhutla memiliki potensi untuk menyebar lintas batas negara.

Prof. Bambang Hero Saharjo menambahkan bahwa ukuran partikel asap menjadi salah satu faktor penentu seberapa jauh asap dapat terbawa. Partikel yang sangat kecil cenderung lebih mudah terangkat dan terbawa oleh aliran udara. “Untuk partikel yang berukuran sangat kecil, dia bisa terbang jauh sekali,” tuturnya. Kemampuan partikel asap untuk tetap mengapung di atmosfer dan terbawa oleh angin inilah yang menjelaskan mengapa kabut asap dapat muncul di lokasi yang jauh dari sumber kebakaran.

Bagikan: Facebook X WhatsApp