Sunday, 23 August 2026
BREAKING
Teknologi

Faktor Lingkungan Picu Sulitnya Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan

Oleh Achmad August 23, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menjadi sorotan, mengungkap tantangan serius dalam upaya pengendaliannya. Kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran api menjadi faktor krusial yang kerap kali membuat pemadaman menjadi pekerjaan berat.

Para ilmuwan mengidentifikasi sejumlah elemen lingkungan yang berperan dalam eskalasi kebakaran. Salah satunya adalah kekeringan ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Data menunjukkan bahwa periode kemarau yang berkepanjangan telah menurunkan kadar air dalam vegetasi, menjadikannya bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Selain itu, komposisi vegetasi di Kalimantan juga turut berkontribusi. Keberadaan jenis tumbuhan yang memiliki kandungan minyak tinggi atau mudah mengering, seperti beberapa jenis semak belukar dan pohon pinus, menciptakan kondisi ideal bagi api untuk merambat dengan cepat. “Kondisi vegetasi yang kering dan mudah terbakar, ditambah dengan angin kencang, menciptakan skenario yang sangat berbahaya,” ujar Dr. Budi Santoso, seorang peneliti lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada 15 Mei 2023.

Perubahan iklim global juga disebut-sebut sebagai pemicu utama memburuknya situasi ini. Peningkatan suhu rata-rata dan perubahan pola curah hujan yang tidak menentu membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan intens. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kalimantan, tetapi juga di berbagai wilayah lain yang rentan terhadap kebakaran hutan.

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, meskipun telah dilarang, masih sering terjadi dan menjadi sumber awal api. Ketika dikombinasikan dengan kondisi lingkungan yang sudah kering dan mudah terbakar, api kecil pun dapat dengan cepat membesar dan meluas menjadi kebakaran hutan berskala besar yang sulit dikendalikan.

Upaya pemadaman yang dilakukan oleh tim gabungan, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), seringkali menghadapi medan yang sulit dijangkau dan cuaca panas yang ekstrem. “Kami berpacu dengan waktu dan alam. Angin bisa berubah arah kapan saja, membuat kami harus terus beradaptasi,” ungkap seorang petugas pemadam kebakaran yang tidak ingin disebutkan namanya, saat diwawancarai di lokasi kejadian pada 20 Mei 2023.

Para ahli menekankan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengatasi masalah ini, mulai dari pencegahan, edukasi masyarakat, hingga penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan. Penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana juga menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kebakaran hutan di masa depan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp