Thursday, 30 July 2026
BREAKING
Lifestyle

Stunting Mengancam Kecerdasan Anak: Risiko Gangguan Otak dan Hambatan Belajar Terungkap

Oleh Destian July 30, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Anak yang mengalami stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan otak dan kesulitan belajar di kemudian hari. Fenomena ini menjadi perhatian serius pemerintah dan para ahli kesehatan, mengingat dampaknya yang dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Kondisi stunting, yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah standar usianya, bukan hanya masalah fisik. Para pakar menjelaskan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari konsepsi hingga anak berusia dua tahun, merupakan masa kritis pembentukan otak. Kekurangan nutrisi esensial selama periode ini dapat menghambat perkembangan sel-sel otak dan konektivitas saraf.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi stunting di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023 menunjukkan angka stunting balita sebesar 21,5 persen, meskipun ada penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini masih di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu di bawah 20 persen.

Dampak jangka panjang stunting terhadap fungsi kognitif telah banyak diteliti. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah internasional seringkali mengaitkan stunting dengan skor inteligensi yang lebih rendah, keterlambatan bicara, serta kesulitan dalam memori, perhatian, dan kemampuan pemecahan masalah. Gangguan ini dapat berlanjut hingga masa sekolah dan dewasa, membatasi potensi akademis dan profesional anak.

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) pada beberapa waktu lalu, Prof. Dr. dr. Nurul Ratna Saraswati, Sp.A(K)., M.Sc., seorang pakar tumbuh kembang anak, menekankan bahwa pencegahan stunting harus menjadi prioritas. “Investasi pada gizi anak di awal kehidupan adalah investasi pada masa depan bangsa. Otak yang berkembang optimal akan menghasilkan individu yang cerdas, produktif, dan mampu berkontribusi optimal bagi masyarakat,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah terus menggalakkan berbagai program intervensi. Program-program tersebut mencakup peningkatan akses terhadap pangan bergizi, edukasi kesehatan ibu hamil dan menyusui, imunisasi lengkap, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala di Posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.

Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan penurunan stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024. Upaya ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga untuk memastikan intervensi yang terpadu dan efektif di lapangan, mulai dari penyediaan air bersih dan sanitasi hingga peningkatan kualitas layanan kesehatan primer.

Mengingat pentingnya pencegahan, masyarakat dihimbau untuk lebih peduli terhadap status gizi anak. Pemberian ASI eksklusif, MPASI bergizi seimbang, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin adalah langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua. Kesadaran akan risiko stunting terhadap perkembangan otak dan kemampuan belajar anak diharapkan dapat mendorong upaya pencegahan yang lebih masif.

Bagikan: Facebook X WhatsApp